Praktis semenjak itu, saya nyaris tak pernah kumpul dengan orangtua untuk waktu lama. Terkadang ketika sampai ke Tarakan, hanya bertemu tak sampai tiga jam. Apalagi setelah ibu saya meninggal, saya jarang berada di Tarakan lebih dari satu hari. Hampir tiga bulan ini, abah berada di Samarinda. Waktu yang panjang untuk saya bertemu. Perubahan yang adalah kini abah telah lanjut usia. Tak enerjik seperti dulu lagi. Penglihatan nyaris tak ada lagi. Namun saya melihat semangat tetap terjaga. Keinginan kembali melihat seperti dulu lagi, meski dengan segala keterbatasan.
Ya, usia sang abah telah 62 tahun. Meski secara fisik masih sehat. Faktor mata membuat aktivitas abah berkurang. Namun, dengan keadaan saat ini, saya dan adik-adik sempat dibuat kalang kabut ketika tiba di Balikpapan tanpa pendamping. Ya, saya akhirnya berusaha memahami jiwa abah memang seperti itu. Tak pernah mau dibatasi oleh kondisi apapun yang dialaminya.