Jumat, 27 Desember 2013

Sang Mama (4)



Kenangan Bersama Sang Mama (4)
Pulang ke Rumah Kembali, Mama seperti Hidup Kembali

SELAMA sebulan tiga hari di rumah sakit, malam hari, mama kadang sulit tidur. Rupanya, terkadang luka itu menimbulkan rasa nyeri. Terutama pada daging yang masih hidup sel-selnya. Tak mengeluarkan suara apapun, bibirnya hanya mendesis. Kalau nyeri tak bisa ditahan, kaki kanannya dihentak-hentakkan ke lantai atau ketika dalam posisi tidur, dihentakkan ke ujung ranjang (pelan). Ya, rasa nyeri sering kali membangunkan tidur mama di malam hari.
Biaya pengobatan diabetes lumayan mahal untuk ukuran keluarga kami. Setiap hari, harus mengeluarkan Rp 400-600 ribuan untuk pembelian infus, ganti perban, insulin, plester, kasa dll.  Belum termasuk sekitar Rp 700 ribuan hingga Rp 900 ribu per Sabtu untuk obat-obatan. Tapi, urusan uang tak terpikirkan. Saya tahu, abah pontang-panting mencarikan dana. Saya sendiri berusaha membantu sebisa mungkin.
Bagi kami, kesehatan mama sangat penting. Uang tak ada harganya dibandingkan urusan mama yang sedang bertarung dengan nyawa. Satu ketika, saya benar-benar tak ada uang waktu itu. Adik di Tarakan sudah minta tambahan dana untuk beli obat. Saya terdiam sejenak, kira-kira bagaimana caranya mendapatkan uang. Permintaan dana pasti saya iyakan. Entah darimana datangnya, yang pasti sepertinya ketika itu rezeki yang mengalir lewat saya memang untuk pengobatan mama. Usai saya iyakan, otak saya berpikir apa kira-kira bisa mendatangkan duit.
Akhirnya, teringat dengan komputer PC. Saat itu, harga komputer PC masih mahal. Saya beli seharga Rp 6 juta-an, meski dengan cara mencicil dari seorang teman yang buka toko komputer. Komputer itu pula yang saya jual untuk membantu biaya pengobatan mama. Setidaknya, selama beberapa hari ke depan, saya bisa lebih tenang menghadapi permintaan biaya pengobatan. Satu yang paling saya takutkan selama sebulan itu, setiap ada permintaan adik untuk beli obat, yakni kas lagi kosong.
Saya hanya ingin, adik-adik tak memikirkan biaya pengobatan, di tengah upaya mereka menenangkan hati mama. Jangan sampai mama memikirkan biaya pengobatan, malah bikin gula darah tak pernah turun. Saya jauh dari rumah, tak bisa merawat langsung. Tak ada dedikasi yang diharapkan selain ikut membiayai. Abah, saya tahu (dari cerita adik), telah menjual beberapa aset tanah untuk membuat mama tetap tersenyum di tengah sakit.

*** Satu yang saya lihat dan kagumi dari mama, wanita yang telah mengurus enam anaknya, dan menjadi istri setia, yakni tak pernah sekalipun mengeluh.  Bahkan pada masa sulit-sulit keuangan, dia juga tak pernah menyampaikan keluh kesah. Berapa pun uang yang diberikan, diolah untuk makan sehari-hari keluarga. Mama yang bahkan tak pernah bercerita tentang kejelekan abah kepada anak-anaknya. Mama yang juga tak pernah cerita kejelekan keluarga. Saya tahu persis bagaimana mama bahkan lebih banyak mengalah kepada abah. Semoga semua itu memberikan kebaikan untuk mama kelak.
Adik Ida bertutur:
Mama paling pandai membuat kami merasa nyaman di rumah. Kami tahu terkadang uang tak ada. Tapi, kami bisa makan tiga kali sehari, tepat waktu jam makan. Pagi hari, kalau tak ada uang untuk membeli kue, mama biasanya bikin kue lempeng. Kalau tak ada uang untuk beli tepung, nasi uang diolah jadi nasi goreng.

*** Tahun 1995, mama pernah berkunjung ke Samarinda bersama adik perempuan saya, Siti Hajar. Karena tak punya duit untuk menginapkan di hotel, akhirnya mama tinggal di kos saya di Jalan Pramuka, Samarinda. Ini kunjungan kedua mama. Sebenarnya, mama bisa saja tinggal di rumah saudara dengan suasana rumah yang jelas jauh lebih baik dari kos-kosan saya. Tapi dia memilih tinggal bersama saya. Rasanya ketika itu, tak sampai tiga hari berada di Samarinda. Saya sempat membawa mama jalan keliling Samarinda berbekal motor Yamaha Alfa II Super.
Saya ingat sejarah motor ini. Kalau tamat SMA, dan harus bekerja, akhirnya saya menelepon mama minta dibelikan motor. Ini permintaan pertama saya yang agak besar. Sebelum ini, paling hanya minta dikirimi uang bulanan. Itupun pada tahun-tahun terakhir, malah jarang minta uang lagi karena sudah mempunyai penghasilan tetap. Permintaan motor di-sanggupi mama.
 “Iya nanti mama rundingkan Bapak mu. Tapi nanti gunakan untuk kuliah. Mama enggak mau kuliah mu berantakan. Kamu di Samarinda untuk sekolah bukan bekerja”.
Namanya juga masih muda, saya dengan cepat menyatakan kesanggupan. Ya, bagi mama, saya memang berada di Samarinda untuk kuliah. Keesokan harinya, saya kembali menelepon mama.
“Sudah setujukan bapak. Kapan motornya dikirim, Ma”. Kalimat ini dibalas ketawa.
“Kau ni (kalimat kau ni, sangat khas Tarakan. Diucapkan dengan mendayu) baru sehari telepon, bapak belum sempat mengirimkan motor. Tunggu motor baru bapak mu keluar, baru dikirim”.
Dalam hati bergumam, bakalan lama urusan motor ini. Saya pun kembali mendesak, berapa lama lagi. “Cepat aja Is. Abahmu sudah mengurus pembelian motor”. Mama sendiri kadang menyebut bapak, bisa pula abah. Namun kepada orang-orang, biasa menyebut Abah Is (Is adalah kependekan dari nama saya) ketika menyebutkan suaminya kepada orang-orang.
Soal penyebutan Abah Is ini kadang membuat adik-adikku protes bernada canda. “Kenapa sih mama ini pakai Abah Is. Kan ada Hajar atau Ida”. Biasanya kalau mendengar itu, mama hanya tertawa tak memberikan jawaban pasti. Hajar sendiri, termasuk anak kesayangan mama dan bapak. Meski kadang hanya protes berat ketika mama mengoceh tentang saya di depan mereka. Ha ha ha, yang pasti yang baik-baik saja.
“Bah mama ini, banyaknya anak mama ini yang diceritakan satu saja”. Saya tahu kalimat ini karena cerita dari adik-adik dan mama.
Sekitar sepuluh hari kemudian, motor Yamaha Alfa II R pun tiba di Samarinda. Bernopol F di belakangnya, ini adalah motor pertama saya. Asik! Saya benar-benar kegirangan. Malam hari motor itu saya pandangi. “Akhirnya punya motor juga”. Siang tadi, saya sudah menghubungi mama menyampaikan kabar motor yang sudah datang.
 “Ma, motor sudah datang”.
Kalimat ini ini dijawab mama, “Ya. Gunakan motor itu dengan baik ya. Sekolah yang tinggi. Jangan lupa salat”.
Dua perintah ini ini dia sampaikan. Perintah terakhir, sering saya dengar dalam perbincangan di telepon.  Meski akhirnya, saya sendiri tak pernah tamat kuliah. Saya hanya sempat kuliah di tiga kampus, berusaha kuliah di tiga fakultas. Yakni fakultas ekonomi di Universitas Agustus 1945 (sempat mendaftar, beberapa kali masuk), Fakultas Ekonomi Universitas Widya Gama Mahakam (sempat semester lima), Fakultas Hukum Universitas Widya Gama Mahakam (sempat ikut ujian semester pertama). Rata-rata gagal karena urusan pekerjaan. Terkadang ketika mau semester malah harus berangkat keluar daerah. Nasib saya yang tak pernah tamat kuliah ini sering jadi bahan canda saya di depan teman-teman, atau kala memperkenalkan diri dalam satu acara. Tapi, yang pasti mungkin karena memang saya tak serius menyelesaikan kuliah.
Tak lama setelah menerima motor. Ada surat dari ‘cinta’ bapak datang. Saya ingat sekali, ditulis dalam secarik kertas, seperti kertas memo. Tak sampai tujuh baris. Saya lupa detail kalimat tersebut. Tapi kalimat pertama yang disampaikan yakni!
“Anakku, jangan pernah lupakan salat. Sekolah yang tinggi dan kerja bagus tak ada artinya kalau kamu tak salah”.
Secarik kertas itu begitu lama berada dalam dompet. Entah ke mana secarik kertas tersebut. Dulu, ketika membongkar-bongkar isi dompet, secarik kertas itu sempat saya temukan.
Kembali ke perjalanan mama kedua kali ke Samarinda. Kesenangan ketika pagi hari adalah makan nasi kuning (awalnya mama tak mau makan nasi kuning, saat saya sampaikan lauknya ikan gabus atau ikan harwan kalau di Samarinda. Kalau di Tarakan, ikan gabus biasa terdapat di parit atau sungai kecil. Tak ada yang dipelihara seperti di Samarinda).
Siang hari mama paling senang menikmati ikan mas atau pepes patin. Malam hari biasanya menikmati bebek goreng atau nasi goreng. Saya bawa keliling keluarga. Fisik mama ketika itu benar-benar sehat. Biasanya kalau habis jalan, tidur-tiduran di kos. Kalau sudah begitu, saya siap-siap saja mendengarkan ocehan panjang sang mama. Biasanya kalau lagi mengoceh gara-gara melihat saya terus-menerus merokok, segera saya pijiti kakinya. Pijitan itu saya maksudnya, ocehan tentang rokok segera berlalu.
 Suasana kos-kosan saya jaga agar terlihat aman sehingga mama tak khawatir melihat anaknya berada di negeri orang. Saya tinggal di kos yang relatif bebas. Teman-teman kadang kalau malam hari ada yang menenggak minuman keras jenis vodka, ada pula yang menggunakan narkoba jenis LL, nipam dan megadon. Ada dua teman akrab saya yang akrab dengan hal-hal tersebut. Saya sudah wanti-wanti keduanya agar tak mabuk dan ‘fly’ selama mama saya di di kos-kosan. Meski, sebenarnya dua teman saya itu selama ini tak pernah secara langsung di depan saya mabuk dan fly, mungkin karena sungkan.
Meski akrab dengan mereka, saya sendiri sejak dulu tak pernah sekalipun menenggak minuman keras dan mengobat. Ketika SMA sempat merasakan dua satu obat nipam karena menghormati teman-teman. Tapi, kala itu seperti tak merasakan fly sedikitpun. Menghormati tiga teman yang sedang fly, akhirnya saya berpura-pura merasakan suasana yang sama. Pesta obat terjadi di rumah seorang teman, setelah kami memutuskan bolos sekolah. Tapi beda sekali dengan obat-obatan sekarang, obat daftar G tak memberikan efek jangka panjang untuk psikis, termasuk kergantungan berlebihan. Apalagi sampai merasakan sakaw, paling-paling hanya keinginan karena merasakan sesuatu yang agak beda. Begitu yang teman sang pengobat yang saya tanyakan, efek obat daftar G tersebut. 
Kedua teman itu adalah teman kecil di Tarakan. Namun yang cukup membuat saya senang, keduanya jauh dari jejak masa lalu. Seorang teman, dulu bahkan sempat jadi pengamen untuk membiayai kuliah. Malam hari saya melihat dia menghitung uang recehan seratus rupiah hasil mengamen. Sedih juga saya ketika itu melihat semangatnya. Hasil mengamen terkadang dibelikan obat-obatan terlarang, ini yang membuat saya sangat marah pada satu ketika. Kini, teman pengamen telah menjadi seorang manajer di salah satu pabrik udang besar di Tarakan. Satu teman lagi telah menjadi pegawai negeri di Tarakan. Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan jalan yang baik kepada keduanya.
Dalam satu percakapan dengan teman yang baru setahun menjadi manajer tersebut, saya sering berseloroh, “Kalau lihat masa lalu mu, saya benar-benar tak menyangka kau bisa jadi manajer”. Ya, kalau ke Tarakan saya pasti menyempatkan diri bertemu teman tadi dan lainnya. Biasanya saling olok terjadi. Tapi, saya tahu persis dia memang punya semangat kerja luar biasa. Ayah dan ibunya telah tiada ketika usianya masih kecil. Hidup menumpang di rumah kakak, setiap malam bekerja membantu kakak ipar yang jualan nasi lalap. Kalau siang hari, sepulang sekolah bekerja menjadi tukang deco mobil. Makanya di kala SMP, ada gelar tambahan deco di belakang namanya. Semangat kerja itu yang benar-benar saya ingat.
Alhamdulillah pula, selama mama berada di Samarinda ternyata teman-teman menjaga kondisi kos-kosan tetap aman. Tak ada suara teriakan di kala fly atau mabuk. Yang ada di malam hari adalah pesta makan mie instan. Kebiasaan saya kala malam memang, membelikan mie instan untuk dimakan ramai-ramai. Bersama teman-teman di kos-kosan saya seperti mendapatkan suasana berbeda dari kantor.  ***
==========
Kembali ke sakit mama. Dalam kondisi bosan di rumah sakit, mama minta pulang. Abah pun konsultasi dengan dokter. Kalau tak salah, dokternya bernama Hasbi. Keputusan dokter kala itu, boleh pulang. Secara fisik memang sehat. Namun, penyembuhan kaki kiri tak memperlihatkan perkembangan berarti. Kala itu, kami malah khawatir, terlalu lama di rumah sakit, bisa membuat kadar gula mama kian tak stabil.
Saya menyempatkan diri menjenguk mama di Tarakan, dua minggu setelah dirawat di RSU Tarakan. Tak sampai tiga hari. Kali ini, saya pun memilih tak memberitahu mama, saya akan datang ke Tarakan. Sore hari, pesawat mendarat di Bandara Juwata, Tarakan. Di bandara dijemput adik, langsung menuju rumah sakit. Saya sudah membayangkan, bakal menemukan tubuh mama kurus. Mata cekung, dan mama yang ‘hanya’ tergolek di ranjang.
Tak sampai setengah jam, saya sudah sampai di kamar tempat mama dirawat. Tak lansung masuk. Dari balik pintu, saya intip mama. Saya lihat sedang bolak-balik di ranjang. Pintu saya buka, begitu melihat saya, terlihat wajah mama berbinar-binar. Seperti sangat bersemangat sekali. Saya dipeluknya. Sangat erat sekali, sangat erat. Pipi kanan dan kiri saya dicium. Hampir setahun saya tak pulang ke Tarakan. Saya sempatkan datang pada Jumat, Sabtu dan Minggu, baru kali ini di luar urusan kantor.
“Kamu pulang nak. Mana istrimu”.
“Tak ikut ma. Jaga rumah. Nanti rumahnya lari”. Canda saya kepada mama. Mendengar candaan saya, mama tertawa. “Kamu ini. Ada-ada saja”.
Saya berusaha tak melihat mama seutuhnya. Tak pula berusaha menanyakan apa yang dia rasakan saat ini. Selain karena saya sudah mengerti, saya tak ingin mama tenggelam dalam kesedihan setiap saya menanyakan penyakitnya. Pertanyaan saya pun lebih kepada memuji makanan rumah sakit yang enak. Kebetulan, ada sisa makanan mama yang saya santap. Rasanya hambar, karena kurang gula dan garam. Kalimat ini saya sampaikan untuk memberi semangat saja.
Mendengar kalimat ini, mama langsung menjawab. “Bah, mana ada. Bosan!. Tak bisa makan macam-macam”.
Saya tertawa kecil. “Nanti aja, kalau sehat tinggal pilih restoran paling enak”. Mama hanya tersenyum mendengar kalimat ini.
Ketika saya harus kembali ke Samarinda, pagi hari, saya pamitan. Mama sudah bangun sejak pukul 05.00 Wita. Mama tau, hari Senin pagi ini, harus kehilangan anaknya menuju kota perantauan. Usai memasukkan pakaian kotor, saya pun pamit. Tak ada kalimat saya sampaikan. Saya ciumi pipi kanan dan kiri mama. Mama pun membalas dengan mencium pipi kanan, kiri dan kening saya. Saya pun lalu dipeluknya.
Lalu, ini kalimat yang sangat saya ingat. “Jangan kesehatan ya nak. Mama tak mau ada apa-apa dengan dengan kamu”.
Tak berlama-lama saya pun langsung meninggalkan rumah sakit.  Entah berapa lama lagi mama akan dirawat di sana. Satu yang pasti, dokter memang memberikan garansi akan sembuh 100 persen. Bahkan untuk luka di kaki pun dokter tak berani memberikan waktu, kapan akan sembuh. Kondisi yang mama hadapi, sama persis dengan sebelum kaki Mbak Mami (ibu dari mama saya) dipotong. Luka tak pernah sembuh, bau tak sedap yang sama. Ketidakberdayaan, harus berada di ranjang yang sama di rumah sakit, tak jelas kapan sembuh. Mungkin kondisi itu, kelelahan pikiran dan fisik, membuat penderita diabetes malah semakin sakit.
Dari adik Ida, saya mendapat cerita. Ketika pulang wajah mama berbinar-binar lagi. Terlihat lebih sehat dibandingkan ketika dirawat di rumah sakit. Lengkingan suara mama pun kembali terdengar ketika memanggil anak-anaknya. Ya, meski telah pulang dari perawatan, mama belum bisa beraktivitas seperti biasa. Berada di ranjang, setiap pagi dipapah ke kursi tamu kesayangan mama (kursi panjang, tempat mama biasa tidur-tiduran). Kadang juga duduk di kursi depan televisi, meski kami tahu mama buka penikmat acara televisi yang baik. Setahu saya, malah tak ada lagu kesenangan mama. (bersambung)




Sang Mama (3)



Jadi juga tulisan ini kenangan bersama mama dan masa kecil kami. Mohon maaf kalau teman-teman berusaha membaca tulisan jelek ini.

Kenangan Bersama Sang Mama (3)
“Badan Mama Lemas. Kata dokter Penyakit Mama Kambuh”

Tahun 2001, saya pernah mendapat kesempatan tugas kembali ke Tarakan. Namun perintah pimpinan saya tolak. Saya memang tak ingin kembali ke Tarakan, membayangkan berada dalam kota kecil kembali pada keluarga besar saya. Mungkin karena saya sudah terbiasa berada di Samarinda, sehingga seperti sulit melepaskan diri. Keputusan itu yang kelak benar-benar saya sesalkan beberapa tahun kemudian. Kenapa? Saya benar-benar seperti menjadi anak tak berbakti pada orangtua. Mestinya punya kesempatan mengurusi mama lebih banyak. Melepaskan kerinduan setelah sebelas tahun meninggalkan Tarakan. Memberikan kesempatan beliau mencurahkan kerinduan pada anak pertamanya.
Saya benar-benar merinding dan meneteskan air mata menuliskan kalimat ini. Ini benar-benar dosa sangat besar. Saya membuang kesempatan berbakti pada orangtua. Tapi, waktu tak mungkin diputar lagi. Semua telah berjalan seiring waktu yang terus bergulir. Allah SWT telah menuliskan cerita masing-masing. Saya hanya bisa terpekur ketika ingat telah membuat keputusan salah.
Sekitar Agustus 2000 silam, saya mendapat informasi dari adik di Tarakan, mama kembali terserang penyakit diabetes. Kali ini bukan sekadar pusing, lalu badan lemas. Ketika menerima telepon itu, saya benar-benar terdiam. Saya sudah membayangkan, betapa sulitnya masa-masa yang akan dilalui mama di masa mendatang. Berita yang benar-benar memukul batin saya. Adik perempuan saya dengan nada tergopoh-gopoh memberitahu informasi tersebut.
“Kak, penyakit diabetes mama kambuh”. Kalimat itu disampaikan dengan menangis.
Agak susah saya menjawab telepon dia. Hanya kalimat pendek yang saya keluarkan, “Iya de. Sekarang mama di mana?” tanyaku.
“Tadi sudah masuk rumah sakit. Kakinya luka, sepertinya susah sembuh”.
Informasi kaki luka ini, yang di luar perkiraan saya. Semula saya membayangkan, mungkin masih gejala diabetes. “Iya de. Tolong urus mama dulu ya. Carikan dokter yang bagus untuk mama. Carikan kamar yang bisa membuat mama tenang”.
Hanya itu itu sedikit permintaan saya pada adik perempuan pertama saya, Sahida.
Satu jam kemudian, saya dapat kabar, mama sudah masuk kamar. Alhamdulillah, bisa segera dapat perawatan. Menurut adik, kondisi tubuh mama lemas sekali. Ada luka biasa memang karena terkena paku payung, tapi waktu itu tak menyangka bakal membawa cerita yang lain di kemudian hari. Anggota keluarga juga tak menyangka, kondisi tubuh yang menurun ternyata karena gejala penyakit diabetes yang kambuh. Usai masuk kamar, saya menelepon adik meminta bicara dengan mama.
Akhirnya bisa mendengar suaranya, setelah diliputi pertanyaan tentang kondisi mama. “Gimana Ma, pusing berat kah kepala”.
Ketika mendengar suaranya, saya benar-benar tak tahu mau ngomong apa. Basa-basi sudah pasti, memberi semangat belum terpikirkan. Suara mama di telepon seperti orang mengigau. Suaranya terdengar jauh. Namun sepertinya ketika mendengar suara saya, dia berusaha memperbaiki nada bicara.
“Badan mama lemas. Kata dokter penyakit mama kambuh”. Kalimat itu disampaikan dengan nada pelan. Lalu, terdengar lagi suaranya.
 “Kamu di mana Is”.
Duh ini kalimat yang benar-benar bikin hati saya sesak. Saya tak berada di dekatnya, ketika mama dalam kondisi drop. Ini konsekuensi di perantauan yang jauh dari perhitungan saya.
“Masih di Samarinda Ma’. Nanti ke Tarakan”. Tak terdengar permintaan, segera pulang menengok dia. Beberapa detik tak terdengar suaranya, akhirnya saya putuskan hanya mengeluarkan kalimat pamungkas, “Mama istirahat saja. Tadi adik Ida (panggilan akrab Sahida) sudah carikan obat untuk mama”.
Jawaban mama, “Ya sudah. Kepala mama pusing”. Telepon pun ditutup.
*** Saya sudah membayangkan bakal menemui mama yang jauh dari kondisi ketika sehat karena luka di kakinya. Sebenarnya sejak 1996 silam, mama sudah diketahui mengidap penyakit diabetes. Diawali dengan kaki seperti tak terasa ketika berjalan. Ketika periksa, ternyata kadar gula memang tinggi. Setelah ketahuan mengidap penyakit gula, hanya lima tahun setelah kematian Mbah Mami meninggal dunia karena penyakit sama, kami sudah berusaha memberikan proteksi pada mama untuk tak makan nasi lebih banyak. Itu diet alami yang kami ketahui. Saya sendiri kala itu tak terlalu berusaha meminta mama diet nasi lebih ketat.
Meski saya lihat sebenarnya mama tak makan terlalu banyak. Tapi memang untuk wanita yang terserang diabetes, harus menjauhi nasi. Makan tak boleh lebih dari 10 gram. Makan tak boleh terlambat karena malah akan meningkatkan kadar gula dalam tubuh. Ini adalah pengalaman kecil yang saya lihat dari mama. Masuk rumah sakit pertama itu, benar-benar menjadi awal dari perjalanan panjang mama menghadapi penyakit diabetes.
Luka di kaki mama terjadi karena terkena paku payung saat nonton televisi. Entah siapa yang bermain dengan paku payung itu. Mungkin sudah jalan Allah SWT. Saya sendiri sempat marah pada adik-adik kenapa tak memperhatikan benda-benda tajam yang ada di rumah. Tapi, ya itu kemarahan mengalihkan rasa sedih melihat derita mama.
Bagaimana tidak, menginap pertama di rumah sakit berlangsung 1 bulan tiga hari. Kaki sebelah kiri benar-benar parah. Mendapat perawatan intensif di rumah malah tak memperlihatkan tanda-tanda membaik. Setiap hari harus ganti perban dua kali. Setiap ganti perban, pasti mengeluarkan bau menyengat. Diperban saja, bau tak sedap masih kadang tercium. Mama sendiri sudah tak merasakan apa-apa pada kaki-kaki yang membusuk, selain rasa nyut-nyut. Tak ada kalimat mengeluh setiap kali suster mengganti perban. Meski anggota keluarga tahu, penderitaan itu sungguh sangat menyiksa mama. Dia yang begitu enerjik, harus kehilangan segala-galanya hanya dalam waktu beberapa hari.
Adik saya Sahida pun bertutur:
Sejak di rawat di rumah sakit, mama tak diperbolehkan makan nasi terlalu banyak. Kalau makan nasi berbentuk bubur. Itu yang membuat mama bosan makan. Terkadang mama minta dibelikan rujak cingur. Permintaan dipenuhi tapi lontong hanya dikasih beberapa potong. Kalau sudah begitu, mama kadang merajuk tak mau makan. Setelah dibujuk dengan menyebut perkataan dokter tak boleh makan nasi terlalu banyak, barulah mau makan.
Adik ingat, setiap hari tak pernah lupa menanyakan kapan kakak datang. Kalau sudah begitu, kadang abah bercanda, “Mama kirim saja ke Samarinda, biar tak nanya-nanya lagi”. Kalau sudah begitu, mama tersenyum. Biasanya, kak Wais telepon setiap hari. Bisa juga mama yang minta ditelponkan anak kesayangannya.
Duh jadi ingat mama. Sebelum sakit, mama sebenarnya rajin olahraga. Hanya jalan-jalan di sekitar rumah di kawasan Jembatan Buntu, tak jauh dari Pasar Simpang Tiga. Kalau jalan di pagi hari, biasanya tak menggunakan sandal. Saya dan Hajar yang paling senang menemani. Kalau pulang dari jalan-jalan , kadang kami membeli kue untuk sarapan pagi bapak. Setiap pagi, mama paling senang minum teh manis. Disajikan dalam teko besar untuk kami yang hendak berangkat sekolah.
Tahun 2000, saat mama sakit, rumah sedang sepi. Dua adik lelaki saya berada di Samarinda melanjutkan sekolah, lalu bekerja. Praktis hanya dua adik perempuan berada di rumah. Satu adik lelaki saya sudah menikah, dan tinggal di rumah mertua. Ada satu saudara sepupu, Endang namanya ikut tinggal di rumah. Endang ini juga yang ikut membantu kala mama dirawat)

*** Rumah kami tak jauh dari pinggir laut. Saya sangat senang, ketika air pasang, memenuhi halaman rumah seluas 600 meterpersegi. Berada di pinggir jalan besar, rumah terbuat dari ulin, ada lima kamar isinya. Menuju rumah kami ada jembatan sekitar 15 meter, penghubung dari jalan utama ke rumah. Rumah yang menyenangkan, dibangun pelan-pelan oleh abah selama dua tahun. Tahun 1995-an, rumah kami tempati, meski beberapa bagian ruangan belum selesai. Meninggalkan rumah masa kecil kami yang hanya berisi dua kamar. Rumah kedua di Jalan Markoni itu, bagi saya meninggalkan lebih banyak kenangan (kini ditempati saudara sepupu).
Suasana malam hari di rumah Markoni (sebutan kami sekeluarga) sangat menyenangkan. Saya paling senang tidur di ranjang besi (hingga kini masih ada). Kadang tidur di depan televisi. Kalau malam hari, abah punya kebiasaan nonton acara Dunia Dalam Berita. Jangan pernah berani nonton film drama ketika abah ada. Kenapa? Usai nonton anak-anaknya pasti disuruh menceritakan kembali isi film, diminta menyampaikan makna yang bisa dipetik. Makanya, ketika abah datang saya dengan cepat memejamkan mata. Seakan-akan sudah tidur, kalau  tidak urusan bisa panjang.
Abah sungguh ketat dalam aturan. Jam 10 malam harus sudah berada di rumah ketika hari libur. Jam pulang maju satu jam ketika pada hari sekolah. Biasanya, kalau masih ada acara kumpul-kumpul bersama teman, saya tetap pulang pada jam itu atau sebelum abah pulang. Nah, biasanya kalau sudah pukul 10.30 Wita ketika acara Dunia Dalam Berita selesai, abah langsung masuk kamar tidur. Kalau sudah begitu, waktunya untuk beraksi. Saya segera keluar rumah melalui pintu depan. Kalau pintu depan terkunci (kunci entah di mana), saya lewat jendela.
Pernah satu ketika, mungkin di kelas II SMP, kebiasaan ini diketahui abah. Entah bagaimana, abah bangun malam. Lalu, mengecek anak-anaknya. Mendapati anak pertamanya tak ada. Periksa jendela tak agak terbuka, Akhirnya dikunci kembali. Malam hari sekitar pukul 12.00 Wita saat pulang, saya mendapat jendela terkunci. Akhirnya dengan terpaksa, saya mengetuk jendela rumah sebelah kanan, tempat mama saya biasa tidur bersama adik terkecil, Siti Hajar. Mama pun bangun, alhasil saya pun mendengar sedikit ocehan. Lalu, seperti biasa mama mengucapkan kalimat pamungkas, “Sudah cepat tidur sana, nanti abahmu bangun”.
Sekolah termasuk yang sangat ketat diperhatikan abah. Jangan pernah membolos. Kalau ketahuan ikat pinggang bisa melayang. Kala kelas IV SD, pulang sekolah dasar, sekitar pukul 14.00 Wita, saya kembali lagi bersekolah di madrasah ibtidaiyah (MI). Sekolah itu dipimpin Ustaz Dursaid, seorang perantauan asal Sulawesi Selatan. Dua anak perempuannya adalah teman bermain saya. Hanya tiga kelas, berisi tiga tenaga pengajar. Pelajaran dasar bahasa Arab menjadi pelajaran sehari-hari. Termasuk pengenalan huruf dan angka.  Saya pernah, dapat pelajaran berharga dari urusan tak sekolah.
Ketika itu karena keasyikan bermain layang-layang! Sebelum bermain saya harus menajamkan benang. Bersama tetangga, Yasmin namanya, saya pun menggelas benang (menggelas bermakna menajamkan benang. Caranya, pecahan botol ditumbuk halus. Setelah itu dicampur karet, direbus hingga mengeluarkan buih. Sisa air rebusan itu yang dioleskan ke benang). Soal ramuan membuat gelasan tadi, Yasmin paling jago (Yasmin tak tamat SD. Namun paling pintar urusan bermain apapun yang tak memerlukan keterampilan akademik). Sore hari pukul 18.00 Wita, saya pun pulang rumah. Ketika ditanya abah, tadi sekolah MI atau tidak, alhamdulillah saya pun menjawab dengan jujur, tak sekolah.
Jawaban ini yang membuat abah marah. Ikat pinggang dibuka, saya pun dikejar. Karena takut, saya lari tunggang-langgang, berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pohon mangga. Abah, akhirnya hanya berusaha meminta saya turun. Dalam tangis, saya hanya bisa memeluk erat pohon mangga. Semakin abah meminta saya turun, semakin erat pula pohon saya dekap. Di atas pohon, saya sudah mendapat serangan semut merah (kami menyebut semut angkrang). Harus bertahan meski badan mulai bentol-bentol. Tak sampai lima menit, akhirnya abah kembali ke rumah. Mungkin karena tahu saya dapat serangan semut merah.
Situasi aman, saya pun turun dari pohon. Tak lama kemudian, Paman Umar saya datang (adik sepupu abah). Menyampaikan permintaan mama, segera pulang. Saya takut, tapi ketika Paman Umar memberitahukan abah sudah jalan, barulah saya tenang. Malam hari, sepulang abah, saya pun disidang (ini istilah saya, ketika abah memanggil untuk memberi nasehat).  Saya menerima panggilan abah dengan sangat takut. Pikiran sudah ke mana-mana. Peristiwa tadi sore bakal terjadi, kali ini sepertinya tak ada kesempatan melarikan diri.
Tapi, terlihat abah melunak. Hanya mengenakan sarung dan baju kaos putih, tak ada ikat pinggang di tangan (saya menyebut ikat pinggang dengan pendeng, kala itu). Ancaman pukulan ikat pinggang tak saya terima lagi  semenjak memasuki kelas VI SD. Mungkin karena saya mulai remaja.
Rumah Markoni tak jauh dari lapangan sepak bola. Ada satu kebiasaan mama ketika sore hari yakni berteriak memanggil saya untuk segera pulang karena hari sudah sore. Lengkingan suara mama, menghentikan sejenak kegiatan saya bermain sepakbola atau layang-layang. Biasanya, saya menoleh sebentar ke arah panggilan. Lalu, kembali melanjutkan permainan. Barulah pada teriakan ketiga, saya bergegas kembali ke rumah. Itu karena matahari telah tenggelam. Tak ada jam tangan. Patokan saya kalau matahari tenggelam, berarti waktu di antara pukul 18.00 Wita.
Saya tak pernah pulang sebelum azan Magrib berkumandang. Saya tahu, jadwal malam lumayan padat. Bersama teman segera pergi ke Masjid Nur Islam, lalu mengaji. Usai mengaji, harus belajar. Tak sampai setengah jam belajar, menuju masjid untuk salat Isya. Setelah itu, belajar sebentar, barulah bisa kumpul-kumpul lagi dengan teman.  Kebiasaan rutin ini terjadi hingga kelas 1 SMP. Semenjak kelas II SMP, seperti mulai bergeser. Pergi ke masjid hanya untuk salat magrib saja. Salat isya sudah jarang ke masjid, malah langsung belajar.  
Tak jauh dari Rumah Markoni, ada jembatan (terbuat dari besi, mungkin sudah ada kala zaman Belanda. Anak tangga terbuat dari kayu ulin. Jarak jembatan tak sampai 15 meter. Jembatan ini melintasi Sungai Pamusan. Hanya bisa dilalui sepeda motor). Inilah tempat kami duduk, dan berbincang. Kalau lagi musim hujan, ketika banjir datang, saya pun biasa melompat dari jembatan itu lalu berenang). Entah apa yang kami bincangkan kala itu. Seingat saya sangat ribut sekali. Beberapa teman kadang menyebut anak tetangga yang cantik. Kebiasaan itu mulai muncul sekitar kelas V SD. Primadona kami dua perempuan sebaya kami, anak pak RT. Tinggal tak jauh dari Masjid Nur Islam. Tapi, si bapak yang galak. Kalau salat, saat kami ribut, pak RT ini pula yang segera meminta kami untuk diam. (bersambung)



Sang Mama (2)


Selamat Hari Ibu
Alhamdulillah bisa juga menyelesaikan tulisan kedua. Semoga bermanfaat.
Kenangan Bersama Sang Mama (2)
Wanita Perkasa Itu Rontok karena Diabetes

BARU beberapa hari berada di Samarinda, saya mendapat surat dari sang mama. Isinya, seperti biasa berisi motivasi agar sang anak pertamanya belajar sungguh-sungguh. “Kau harus jadi anak yang berbakti pada orangtua. Menjaga adik-adikmu”. Itu pesan yang sungguh membuat saya terdiam sejenak membaca surat pertama. Hanya kalimat itu yang saya sangat ingat detailnya. Kalimat lainnya saya tak ingat lagi. Isi surat tak sampai sepuluh baris. Ditulis dalam kertas buku tulis. Amplop yang sangat lecek ketika sampai ke saya.
Tahun 1991, tak ada telepon genggam. Selama tiga bulan saya tak mendengar suara mama. Baru sekitar September 1991, mama telepon. Suaranya begitu jelas dari Tarakan. “Halo nak, apa kabarmu”. Saya pun menjawab dengan kegirangan, “Baik ma”. Saya tak berani menceritakan, betapa tak enaknya berada di perantauan. Makan tak sebebas di rumah. Mau bebas ya harus punya banyak uang. Harus 800 meter menuju sekolah dari perhentian terakhir sekolah. Belum lagi, kalau kiriman lambat, harus naik taksi hanya satu kali saja, sisanya jalan kaki dulu. Kalau ada uang, baru bisa naik taksi dua kali. Akhirnya, saya pun hanya menceritakan, saya baik-baik saja. Tak kurang satu apapun kecuali seperti biasa, saya minta uang.
“Ya nanti saya kasih tau bapakmu segera kirim uangnya. Tapi ingat jangan dipakai macam-macam uangnya. Jangan dipakai beli merokok”. Ketika menyampaikan kalimat itu, diucapkan dengan suara yang melengking. “Iya mamaku yang cantik”. Biasanya kalau sudah mendengar kalimat itu, mama pun tertawa. “Kamu ini ada-ada saja. Sudah dulu”. Itu kalimat penutup sebelum menutup telepon. Itu kalimat mama yang sungguh menyejukkan. Kiriman ketika itu tak sampai Rp 50 ribu.
Saya lupa bagaimana mama bisa menelepon. Rasanya mama kalau menelepon harus pergi dulu ke wartel atau rumah tetangga. Meski beberapa lama kemudian, rumah kami akhirnya bisa punya telepon.
Ramadan pun tiba. Liburan panjang sekolah menanti. Saya pun siap-siap berangkat ke rumah. Ini kepulangan pertama setelah sekian bulan berada di negeri orang. Meski tau saya akan pulang, namun waktu itu tak ada tanggal kepulangan saya beritahukan. Saya mau kasih kejutan ke mama, pasti dia senang sekali. Begitu otak saya berpikir. Akhirnya, menumpang KM Tidar (saya lupa harga tiket kapal di tahun tersebut. Mungkin tak sampai Rp 50 ribu), saya pulang ke Tarakan.
Pukul 12.00 Wita, puasa ketiga sampai juga saya di Tarakan. Sungguh senang, ini perjalanan pertama kembali ke Tarakan. Rumah saya tepat di pinggir sungai. Saya pun memutar melewati pinggir sungai di dekat lapangan sepakbola Panglima Batur. Dari kejauhan saya lihat mama beraktivitas di samping rumah. Entah apa yang dia lakukan. Saya pun mengendap-endap melewati tanah dekat rumah, berisi tanaman mangga, pohon pinang, dipenuhi tanaman pakis, serta jambu mawar.  
*** Ada kandang kambing dan domba di sana, milik paman Sareh. Dulu, saya senang bermain dengan tiga domba di sana. Saya biasa memanjat mangga di tanah itu kala musim  buah. Buahnya sangat lebat. Bosan makan buah masaknya, saya ambil yangmentah dimakan pakai air panas, lalu dikasih gula. Di samping tanah kebun, ada kolam kangkung berisi ikan gabus. Saya biasa memancing di kolam itu bersama teman-teman. Bosan di kolam itu, memancing ikan di sungai depan rumah.
Kalau tak juga dapat ikan, kami biasanya pergi ke Markoni Dalam. Di sana ada kolam ikan berisi tanaman kangkung jadi sasaran kami. Jarak dari rumah saya sekitar 500 meter. Ada rumah paman saya di sana. Tak jauh dari rumah Pak Nenggolan. Anak pak Nenggolan (Yadi) adalah teman saya bermain, juga teman SMP. Dekat rumah Pak Nenggolan, ada rumah sahabat SMP saya, Mardiyah.
Saya ingat, di situ juga ada rumah Pak Hamzah. Dia guru mengaji kami ketika SD. Biasanya sehabis Magrib saya dan teman-teman mengaji di sana. Rumah Pak Hamzah berada di bangsalan Pertamina. Jumlah muridnya setiap mengaji mencapai 20-an orang. Murid yang pintar di ruangan dalam, murid baru belajar di teras rumah. Kalau mengajar ngaji, ada mistar di tangan kanannya. Mistar itu digunakan untuk memukul tangan murid yang bikin marah Pak Hamzah karena bacaan atau memukulkan ke dinding ketika kami malah asik ngobrol. Guru Hamzah sangat hafal murid-muridnya .
Masa itu, tak ada yang melapor ke orangtua karena mendapat pukulan mistar. Melapor ke orangtua pun malah kami yang dimarahi. Orangtua sangat memasrahkan sang anak pada guru. Seingat saya, Guru Hamzah mengajar dengan pengabdian tinggi tanpa imbalan. Kalau pulang, biasanya hanya tertawa menceritakan pukulan mistar Guru Hamzah. Tak ada yang marah atau nangis. Padahal ketika mulai mengaji, kami takut setengah mati mendapatkan pukul mistar itu. Setelah mendapat pukulan, kami meringis, tak menangis. Lalu, kembali mengaji seperti biasa seperti tak ada peristiwa apapun.
Suasana menjelang Isya itu sangat riuh sekali. Saya sendiri kalau datang selalu bersama Ilham. Seperti mendengarkan suara bersahut-sahutan. Semua murid tenggelam dalam bacaan masing-masing. Entah karena takut dengan Guru Hamzah atau benar-benar konsentrasi belajar mengaji. Saya sendiri setelah mulai belajar Alquran, akhirnya kembali belajar di rumah bersama bapak. Satu lagi guru mengaji, adalah di rumah Kai Bren (entah nama sebenarnya siapa). Anak Kai Bren teman saya SMP, Yudi. Rumah Kai Bren, hanya beberapa meter dari  rumah Mbah saya (Ramisa namanya, orang kampung biasa menyebut Mbah Mami. Entah kenapa disebut Mbah Mami). ***

Kembali ke perjalanan pulang saya dari Samarinda. Sekitar 30 meter dari sang mama, saya pun berteriak “Assalamualaikum. Assalamualaikum”. Mendengar suara saya, mama terkejut, lalu tertawa. Wajahnya berubah (Duh saya merindukan wajah yang tak pernah saya lihat lagi). “Kamu ini kagetkan mama aja. Lho kapan datangnya kok gak kasih kabar”.  Seraya menghampiriku, menciumku. Meski sudah besar, saya masih senang mencium kedua pipinya. Senang menggoda mama untuk bikin dia ‘marah’.
Benar-benar wajah kegirangan bertemu anaknya. Saya juga senang bakal bisa makan lebih banyak. Bisa merasakan masakan mama lagi. Selama dalam perjalanan di kapal, saya sudah membayangkan bakal menyantap sambal terasi plus ikan asin kakap bersama lima adikku. Pasti sangat nikmat bisa berada di rumah dalam kebersamaan. Makan di atas cobe yang sama. Kebersamaan yang kini hilang dan pasti tak kembali lagi.
Buka puasa Ramadan keempat, saya menikmati kolak pisang. Menu kolak pisang plus kacang ijo jadi makanan wajib kala puasa. Biasanya, mama memasak dalam panci sedang. Setiap hari pasti ada, dijamin pasti ludes diserbu anggota keluarga. Saya lupa kue yang lain. Tapi ada satu kue yang sangat membekas dalam ingatan satu, yakni kue lempeng. Entah nama lain kue ini. Tapi it sebutan saya dan keluarga. Terbuat dari tepung dicampur air. Seperti martabak, hanya saja tanpa telur. Setelah digoreng, disajikan dengan ditaburi gula pasir. Hmmm, enak! Kue lempeng ini pula yang jadi sarapan anggota keluarga ketika hendak sekolah. Terkadang kue lempeng itu dikasih potongan buah pisang.
Sudah berbulan-bulan saya tak menikmati kue lempeng itu. Bahkan hingga umur saya menginjak 38 tahun, tak pernah saya rasakan lagi. Terakhir, kue lempeng itu saya makan sebelum berangkat merantau. Selama Ramadan kedatangan pertama di Samarinda, saya pun tak menikmati kue itu. Hanya kue tepung bercampur pisang yang sering saya nikmati selama Ramadan. Saya lihat, mama membeli punya cetakan kue itu. Ini menu baru, karena selama SD hingga SMP saya tak pernah mendapati.
Selama sebulan pula, saya habiskan waktu bersama-sama teman-teman masa kecil dan SMP. Saya sempatkan mengunjungi makam Mbah saya yang meninggal hanya tiga bulan setelah saya meninggalkan Tarakan. Saya ingat sekali pesannya ketika saya pamit berangkat. “Is, kamu sekolah yang baik. Sekolah yang tinggi. Mungkin nanti kamu tak ketemu Mbah lagi”. Kalimat itu diucapkan dengan lemah sekali. Mbah pun lalu mencium pipi kanan dan kiri saya, lalu kening.  Ternyata kalimat itu benar-benar pesan terakhirnya kepada saya. Kalimat yang bikin air mata saya menetes ketika teringat. Makanya ketika mama menelepon mengabari, Mbah sudah meninggal, saya benar-benar sedih. Malam itu juga saya salat gaib, kirimkan surah Yasin untuk Mbah yang telah ikut membesarkan saya.
Ada banyak kenangan bersama Mbah. Bahkan, oleh mama saya disebut anak Mbah. Kenapa? Semua permintaan saya kepada orangtua yang tak dipenuhi, pasti saya sampaikan lagi kepada Mbah. Sudah pasti permintaan itu dipenuhi. Saya pernah menangis, melihat teman-teman naik sepeda mini dan BMX, sementara saya tak punya. Saya pun mengadu pada Mbah minta dibelikan sepeda. Ternyata tak berapa lama, saya memiliki sepeda BMX hitam. Meski tak punya sepeda, saya sudah bisa naik sepeda sejak SD kelas I. Modal belajar saya adalah sepeda ontel milik kakek saya. Itu sepeda yang biasa digunakan ketika pergi kerja. Poniman itu nama kakek saya.
Mbah Mami adalah wanita perkasa. Umur menjelang 65 tahun, tetap semangat memberikan nasehat pada anak dan cucunya, tak mau diam di rumah (berusaha bekerja membersihkan rumah dalam keterbatasan fisik). Sakit diabes membuat Mbah Mami berhenti jualan nasi. Anak-anaknya yang mapan (kebanyakan bekerja di Pertamina, dan kontraktor Pertamina), sejak dulu meminta agar berhenti jualan nasi kuning. Namun, Mbah tak pernah menggubris. Barulah ketika sakit diabetes, akhir aktivitas jualan mulai terhenti. Saya sendiri merasa sangat berdosa kepada sang Mbah. Kenapa? Sakit diabetesnya kambuh usai kerja keras menyiapkan acara sunatan saya dan adik lelaki pertama saya, Iksan, ketika kelas V SD. Bersama para bibi, ketika itu saya ingat sekali dia menyiapkan acara selamatan.
Acara sunatan kami digelar di dua tempat. Saya disunat di rumah Mbah, sedangkan adik di rumah (hanya berjarak 150 meter dari rumah Mbah Mami). Entah kenapa bisa dibikin di dua tempat. Mungkin karena saya termasuk cucu kesayangan, makanya acara sunatan dibikin di rumah Mbah Mami. Ya, beberapa setelah acara itu, Mbah Mami jatuh sakit. Peristiwa itu membuat saya sempat terpukul. Sebulan-an saya ikut menjaga Mbah Mami di RSUD Tarakan. Jadwal jaga saya biasanya sepulang sekolah, bersama Bibi Siti. Dia anak Mbah Mami terakhir atau ke-20. Usianya hanya terpaut dua tahun dari saya. Jarak dari rumah rumah ke rumah sakit, hampir 1,5 kilometer. Kalau ke sana ya harus jalan kaki. Biasanya saya bersama Bibi Siti ke rumah sakit, rute perjalanan rutin, berusaha melewati jalan pintas. Melintasi Mess PU menuju SD 003 Pamusian (tempat sekolah saya), melewati kawasan Ladang (perumahan Pertamina untuk golongan pegawai menengah ke atas), lalu naik gunung Ladang, dari sana sekitar 200 meter lagi sampai. Begitu setiap hari selama sebulan.
Mbah Mami, termasuk sukses membesarkan anak-anaknya. Kakek meninggal ketika sebagian besar dari 16 anak-anaknya belum mapan. Setelah meninggal, berbekal uang pensiun Pertamina, Mbah Mami membesarkan anak-anaknya dengan jualan nasi kuning. Pertamina membiayai sekolah bibi dan paman saya hingga tamat SMA. Seluruh paman dan bibi saya menikmati bangku sekolah kecuali mama dan Bibi Jati, tak tamat SD. Sebagai anak perempuan tertua, bersama Bibi Jati kala itu dapat tugas menjaga adik-adik.
Saya masih menikmati makan bersama para bibi dan paman di rumah dinas Pertamina, di Markoni. Suasana yang lebih ramai dari rumah saya. Mbah Mami sangat tegas pada anak-anaknya. Tak membolehkan ada makanan tersisa di piring, bahkan satu butir pun tak boleh jatuh ke lantai. Ajaran Mbah Mami yang tak membolehkan makanan tersisa, sepertinya saya ikuti sampai sekarang. Kalau makan, tak ada butiran nasi tersisa kecuali tulang ikan.
Penyakit Mbah Mami, pula yang kelak menggerogoti mama. Menimpa pula adik mama, Bibi Tama. Kakak mama, Pakde Senang (nama panggilan, aslinya Ramidi) yang anggota TNI-AD berpangkat kapten (bertugas di Balikpapan). Dua nama terakhir ini akhirnya meninggal dunia. Nasib Pakde Senang juga sama dengan Mbah Mami, satu kaki harus dipotong. Sehari sebelum Pakde Senang meninggal saya sempat berkunjung. Kondisinya sudah payah. Dalam hati ketika itu, sepertinya dalam beberapa hari lagi Allah akan memanggil. Ternyata, keesokan harinya, saya mendapat kabar Pakde Senang meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilahi rojiun (semoga Allah memberi tempat yang layak). Ya, penyakit diabetes telah merengut nyawa Pakde Senang. Sejak sakit, wajahnya yang gagah sudah tak terlihat lagi. Dari Bude, saya sempat mendapat cerita semangatnya masih ada meski sakit. Bermodal kaki palsu, sempat berusaha kerja seperti biasa. Namun penyakit diabtes benar-benar tak bisa disembuhkan. Akhirnya, harus berbulan-bulan tergolek lemah, hingga akhirnya meninggal dunia.
Bibi Tama, meninggal setahun lalu. Tak terdeteksi berpenyakit diabetes. Ketika jatuh sakit, diketahui mempunyai penyakit diabetes. Sempat dirawat di rumah sakit, akhirnya tak sampai sebulan meninggal dunia. Ketika meninggal dunia, Bibi Tama tak mempunyai keturunan. Bibi Tama menikah terlambat, di umur 35-an tahun. Dulu, saya sering diajak ke rumah orang pintar, minta bantuan cari jodoh. Satu orang pintar yang saya ingat, tinggal di sekitar Kampung IV, dekat pompa minyak Pertamina. Usai pulang, ketika itu, Bibi Tama menyebut, jodoh akan menghampiri dari pacar lamanya. Yang pasti, ketika saya tamat SMA,  Bibi Tama memang menikah dengan teman SMA. Paman Burhan namanya, pria pendiam yang rajin membantu keluarga, saya tak tahu apakah dia pernah menjadi pacar Bibi Tama.
Satu lagi bibi saya ---dari sekian banyak --- Bibi Jati kini juga harus berjuang melawat penyakit diabetes. Satu kaki sudah terluka, sempat busuk. Kini, alhamdulillah sudah kering, tak berbau lagi. Bibi Jati, sama dengan Mbah Mami dan mama, sehari-hari hidup dalam upaya membesarkan anak-anaknya. Bibi Jati, anak Mbah Mami yang beranak paling banyak, punya 10 anak. Kedua terbanyak adalah mama saya. Kami sebenarnya delapan bersaudara (dua adik perempuan saya meninggal dunia). Anak-anak Mbah Mami yang lain, paling banyak punya 5 anak. Paling sedikit empat anak. Jumlah cucunya, hmmm ketika menghitung 20 tahun silam mencapai 50 orang. Kini saya tak tahu  lagi jumlahnya, mungkin sudah menembus 70 orang atau lebih. Cicitnya malah sudah banyak yang menikah, dan memberikan anak. Saya malah tak mengenal lagi belasan anak dari keponakan, mungkin saking banyaknya dan saya jarang berada di Tarakan.
*** Cucu dan cicit Mbah Mami kini telah menyebar. Ada satu pakde saya tinggal di Malang (setelah memilih pensiun dini dari Pertamina), punya lima anak. Anak perempuan tertuanya hidup di Surabaya. Anak perempuan keduanya, malah tinggal di Pontianak, setelah menikah. Anak pertamanya tinggal di Tarakan, meninggal dunia karena tenggelam. Satu pakde lagi sempat merantau ke Palembang. Meninggalkan anak dan cucu di sana, sebelum akhirnya kembali lagi ke Tarakan di usia tuanya.
Satu lagi adik mama, Paman Kasan, bermukim di Nganjuk. Bekerja sebagai pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN). Istrinya guru agama. Dulu, paman Kasan bertugas di Tarakan, entah bagaimana 15 tahun silam mutasi ke Madura. Lalu, kini malah bermukim di Nganjuk. Setahu saya dia punya tiga anak, sehari-hari juga berbisnis beras. Beberapa bulan lalu, Paman Kasan berkunjung ke Samarinda, ini kejutan untuk saya. Hampir 18 tahun saya tak pernah bertemu. Ternyata dia datang khusus mengunjungi saya dan adik-adik. Senang sekali dikunjungi paman yang kukenal sangat baik pada keluarga, meski hanya sehari.  ***

Kembali ke Bibi Jati! Kalau ke rumah Bibi Jati yang saya perhatikan adalah rendaman pakaian di belakang rumah, pasti dua ember besar. Saking senang mencuci, Bibi Jati terserang varises sangat parah. Wajah Bibi Jati sangat mirip mama. Makanya, kini kalau pulang ke Tarakan, pasti singgah ke rumahnya (rumah Mbah Mami dahulu). Saya seperti menemui mama ketika bertemu Bibi Jati. (bersambung)


Sang Mama (1)


Selamat Hari Ibu
Selamat menikmati cerpen hari ibu. Semoga menjadi bahan renungan betapa hebatnya sang ibu menjaga keluarga, mengurus dan membesarkan anak-anaknya.
Kenangan Bersama Sang Mama (1)

 “Sudah Kau Pikirkan Nak”

1991 silam di Kota Tarakan, kulihat wajah wanita paro ini begitu kaget ketika kusampaikan keinginan pergi ke Samarinda untuk melanjutkan sekolah SMA ke Samarinda. Wajahnya begitu berkaca-kaca. Terdiam sejenak tanpa suara. “Sudah kau pikirkan nak,” begitu kata sang mama.
Saya kembali menyampaikan kalimat meyakinkan, harus pergi dari kota kelahiran demi sebuah cita-cita, hijrah seperti kala Nabi Muhammad SAW memutuskan keluar dari kota Mekah. Keputusan sulit, jauh dari orangtua. Jauh dari begitu banyak kenangan masa kecil. Kenangan bersama teman sekolah. Kenangan bersama teman kecil. Tapi, saya harus pergi. Akhirnya, Juni 1991, saya benar-benar meninggalkan kota kelahiran.
Yang saya ingat, wajah mama saya benar-benar begitu sedih. Sejak pukul 05.00, saya dengar suara ‘ribut’ di dapur. Saya yakin, mama pasti sedang mempersiapkan sesuatu di dapur. Kebiasaan sejak kecil kami kecil, jam itu menjadi awal mula beraktivitas. Bapak, pasti sudah menuju kamar tempat anak-anaknya tidur, memegang kaki kami, membangunkan untuk salat, mengaji lalu belajar. Hmm hari ini terakhir saya berada di rumah, sepertinya tak ada panggilan itu. Saya bangkit dari tidur segera mengambil air wudhu. Tak ada jadwal mengaji seperti biasa usai salat Subuh.
Usai salat saya, lihat mama, memasak nasi. Inilah aktivitas ‘abadi’ menyiapkan makan enam anak dan sang suami. Duh, betapa nikmatnya hari-hari saya bersama saudara. Makan dalam satu tempat nasi . Menikmati sayur kangkung kesenangan keluarga. Dalam satu minggu, dua atau tiga kali, mama pasti memberi perintah membeli kangkung langsung di kolam. Cukup Rp 100, sudah membawa begitu banyak kangkung. Hari itu pun, kami pasti menikmati sayur kangkung ‘kebanggaan’ yang hingga kini menjadi makanan kesenangan saya, hingga makan malam. Hmmm kangkung yang benar-benar begitu nikmat. Disajikan mama dengan kuah yang banyak di baskom. Apalagi disajikan dengan sambal terasi dan ikan asin.
Hari keberangkatan saya ke Samarinda, mama menyiapkan kerang oseng-oseng untuk bekal berangkat. Begitu banyak nasehat diberikan. “Sekolah yang betul-betul. Jangan macam-macam ya nak”. Itu kalimat yang sering dia ucapkan dalam beberapa hari sebelum berangat. Modal saya berangkat sekolah Rp 50 ribu dalam pecahan 10 ribuan lima. Waktu itu memang tak ada uang Rp 50 ribu dalam satu lembar. Yang saya ingat, mata mama berkaca-kaca kalau di pelabuhan sebelum saya naik ke kapal. Tak banyak kalimat yang dia ucapkan. Tak banyak gerakan tubuh yang dia perlihatkan. Saya pun segera naik ke kapal, tak berani menatap wajahnya. Saya yakin dia pasti sangat sedih.



======
Kenangan saya pun menerawang kala Ramadan. Begitu indah. Saya ingat sekali, sekitar pukul 01.00-an, mama pasti sudah bangun. Menyiapkan makanan untuk sahur. Seorang diri, tanpa bantuan anak-anaknya. Dua anak perempuannya kala itu masih sangat kecil. Empat anak lelakinya, sudah pasti  tak bisa diharapkan. Saya punya kebiasaan kumpul bersama teman-teman, tak jauh dari rumah. Memainkan leduman tepat pukul 01.00, di kala suling Pertamina berbunyi. Teman bermain saya Ilham, Alex, Ismail, serta Rudy.
Biasanya di saat-saat bermain, saya mondar-mandir ke rumah. “Dari mana saja Nak”. Begitu kalimat yang sering mama ucapkan setiap melihat saya. Sudah pasti tangannya disibukkan dengan urusan menyiapkan sayur mentah, bumbu masak untuk persiapan sahur. Tepat pukul 03.30 Wita, saya pasti sudah berada di rumah. Yang saya ingat, di antara jam itu, mama membangunkan anaknya satu per satu. Meminta segera meraup muka, duduk bersama anggota keluarga lainnya.
Seru sekali. Cobek besar berisi sambal siap diludeskan. Ikan goreng senangin, selangat atau kakap menjadi menu wajib. Untuk bapak, hampir pasti ada kakap bumbu kuning. Itu makanan wajib kala bulan Ramadan. Saya biasa makan dengan nasi “menggunung” di piring, ikan dua potong plus sayur. Kami datang dari keluarga sangat bersahaja.
Mama paling bisa menanggulangi ekonomi keluarga, memanfaatkan uang yang minim untuk makan anak-anaknya. Kadang saya tertawa mengingat masa lalu. Bagaimana tidak, dua bungkus mie instan (seharga Rp 150 sebungkus) dicampur kangkung. Kuah yang banyak, terasa nikmat sekali. Sayur daun singkong satu panci kadang juga disajikan untuk anggota keluarga. Kadang, telur dicampur tepung (entah tepung apa). Tapi saya benar-benar merindukan menu telur masak. Terkadang mama menyajikan kerang rebus dalam satu panci besar. 
Pukul 04.30 Wita, bapak sudah meminta saya siap-siap salat subuh ke Masjid Nur Islam, berjarak sekitar 300 meter dari rumah. Mama di mana pada jam itu ke mana.  Hmm!!! Cucian piring segunung sudah menanti. Usai salat subuh, biasanya langsung mencuci piring. Setelah urusan piring, masih ada rendaman pakaian keluarga yang harus diselesaikan. Entahlah kapan mama tidur. Pukul 08.00, pasti sudah pergi ke pasar, persiapan berbuka puasa (dari rumah kami di Markoni, menuju pasar sekitar 300 meter). Pulang dari pasar,  sekitar pukul 09.00. Biasanya kami sudah mendengar lengkingan suaranya. “Bangun. Bangun. Sapu rumah, timba air”. Kalimat itu, benar-benar membekas di telinga saya. Biasanya pula, saya dan adik lelaki tak segera bangun, masih malas-malasan di ranjang. Teriakan ketiga kali atau malah kesekian kali, barulah membangkitkan kami dari tidur.

=======
Jangan membayangkan menu ayam goreng, ayam kare atau gulai jadi makanan wajib keluarga dalam setahun. Rasanya, itu makanan yang setahun dua kali kami nikmati. Yakni ketika Idulfitri dan Iduladha. Lebaran menjadi hari sangat menyenangkan bagi keluarga. Sekaligus sungguh melelahkan untuk mama. Datang dari keluarga besar, sudah pasti rumah diramaikan dengan adik-adik mama. Seminggu menjelang Ramadan berakhir, persiapan pasti sangat padat. Mama pasti sudah balok-balik pasar membeli bumbu makanan, dan bahan membuat kue. Di tengah persiapan itu, biasanya pula, kami satu per satu dibawa membeli pakaian baru. Saya hanya sampai SD kelas VI bersama mama membeli pakaian  baru. Sejak kelas 1 SMP, saya memilih sendiri baju yang akan dibeli.
Kalau sudah begitu, saya hanya tersenyum mengingat kebiasaan mama. Biasanya, kalau malas membawa adik membeli sepatu, tali rafia menjadi alat memastikan kaki adik cocok dengan sepatu dan celana yang akan dibeli. “Is, sana cari tali rafia. Ukur kaki adikmu”. Satu lagi kebiasaan mama yang masih saya pakai hingga sekarang yakni mencocokkan size celana dengan mencocokkan ke leher terlebih dahulu. Kalau di leher pas, dijamin pinggang pun cocok.
Kembali ke menu ayam. Dua ayam petelur, dan dua ayam kampung sudah menjadi pasti disembelih kala Lebaran datang. Hanya dua masakan yakni kare dan gulai ayam. Hmmm, begitu enak sekali. Kaki ayam, pasti menjadi jatah saya setiap pagi menjelang salah Idulfitri. Biasanya pula mama yang membolak-balik isi wajan besarnya mencarikan kaki ayam untuk saya. “Sudah cepat makan sana. Mandi, salat Subuh”. Kalimat yang begitu indah, di tengah tai mata yang masih menempel di mata saya.

========
Masa-masa sulit keluarga kami terjadi di tahun 1980-an. Ayah saya kala itu juga bekerja sebagai kontraktor. Umur saya ketika itu baru 10 tahun. Kami sekeluarga tinggal tak jauh dari Mess AL di Panglima Batur. 

** Saya menyebut rumah gunung, karena memang menuju rumah agak menanjak. Terasa sekali rumah gunung begitu jauh. Atap rumah kami terbuat dari daun rumbia. Lantai rumah dari kayu ulin, begitu sejuk ketika siang hari. Rumah kami dikeliling pohon yang rindang. Tiga pohon mangga berumur belasan tahun. Sangat lebat buahnya ketika musim buah. Kamar utama hanya satu. Biasanya kami tidur di ruang utama sekaligus kamar tamu. Listrik, hmm di tahun 1980-an tak sampai ke rumah. Listrik berbekalkan genset milik tetangga. Saya lupa nama pemilik genset, tapi cucu perempuannya bernama kecil Pur, adalah teman main saya. Bapak Pur bekerja sebagai sopir truk. Sangat ramah sekali pada anak-anak, itu yang saya ingat dari bapak Pur.
Jadwal listrik menyala pukul 18.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita. Setelah itu, kami tidur memakai lampu petromak. Pukul 04.00, ketika bahan bakar habis, tetap tidur dalam kondisi gelap-gulita. Siang hari, satu-satunya hiburan adalah radio. Itupun menggunakan baterai. Untuk menghemat, setelah beberapa hari dipakai baterai direbus. Biasanya baterai bisa digunakan lagi untuk sehari atau dua hari.
Tak ada transportasi menuju rumah selain jalan kaki. Jarak ke rumah nenek sekitar 1 kilometer. Menuju jalan besar sejauh 700 meter). Bapak memiliki motor Yamaha L2 Super. Saya ingat sekali, setiap pagi, aktivitas rutin mama adalah jalan kaki ke Pasar Markoni (sekitar satu kilometer). Sore hari, terkadang kami menuju rumah nenek. Tak ada televisi di rumah. Makanya saya sangat senang berada di rumah nenek menikmati televisi hitam-putih. Libur sekolah, menjadi hari wajib saya tidur di rumah nenek).
Satu ketika, bapak sakit hampir dua mingguan. Krisis keuangan melanda keluarga. Untuk makan sangat sulit.
*** Mama adalah anak pegawai Pertamina. Kakek saya tinggal di rumah milik negara yang kala itu sedang jaya. Tapi, mama adalah keluarga besar. Anak perempuan pertama (anak kelima). Punya 16 saudara, sudah jelas tak mungkin minta bantuan orangtua. Saya menjadi salah satu cucu kesayangan nenek. Nenek saya menjadi tempat saya meminta uang setiap hari. Setiap minta tak banyak, Rp 100 nenek pasti diberikan, sehari bisa tiga kali. Entah itu untuk beli kelereng, beli layangan atau gambar in. Saya jarang jajan. Nenek, ikut menjadi tulang punggung keluarga dengan menjual nasi kuning di Pasar Markoni.

Mama kreatif mencari sayuran di sekitar tempat tinggal kami untuk makan tiga anak lelakinya, dan adik perempuan saya yang cantik. Hasnah namanya (meninggal kelas tiga SD, sangat lincah. Saya merindukan dia. Bersama Hasnah (adik ketiga) dan adik (adik kedua), saya biasa keliling sekitar rumah dan tetangga mencari mangga. Kalau sudah mendekati jam saya sekolah, lengkingan suara mama memanggil kami pun terdengar. Begitu mendengar panggilan wajib itu, biasanya bertiga langsung berlarian menuju sumber suara.
Di tengah krisis keuangan, mama mengumpulkan tumpukan koran bekas Mimbar Masyarakat. Saya dan mama pun berangkat ke pasar. Ada Hasnah menyertai. Sepanjang jalan setapak dari rumah gunung menuju Pasar Markoni, saya membawa koran bekas. Tetap riang bermain bersama Hasnah, adik kedua saya. Entah berapa duit dihargai koran-koran bekas itu. Yang pasti, mama bisa membeli mie instan untuk makan keluarga hari itu. Seperti biasa mie disajikan dengan air ‘melimpah’ plus sayur kangkung. Nikmat! nikmati sekali! Bersama ikan asin dan sambal terasi. (bersambung)


Selasa, 29 Oktober 2013

Abah Menua

Bertahun-tahun lamanya saya jarang berada dalam waktu yang lama dengan orangtua, semenjak merantau ke Samarinda di tahun 1991 lalu. Ketika pulang kampung, paling lama hanya satu minggu. Setelah bekerja, tak lebih dari tiga hari. 
Praktis semenjak itu, saya nyaris tak pernah kumpul dengan orangtua untuk waktu lama. Terkadang ketika sampai ke Tarakan, hanya bertemu tak sampai tiga jam. Apalagi setelah ibu saya meninggal, saya jarang berada di Tarakan lebih dari satu hari. Hampir tiga bulan ini, abah berada di Samarinda. Waktu yang panjang untuk saya bertemu. Perubahan yang adalah kini abah telah lanjut usia. Tak enerjik seperti dulu lagi. Penglihatan nyaris tak ada lagi. Namun saya melihat semangat tetap terjaga. Keinginan kembali melihat seperti dulu lagi, meski dengan segala keterbatasan.
Ya, usia sang abah telah 62 tahun. Meski secara fisik masih sehat. Faktor mata membuat aktivitas abah berkurang. Namun, dengan keadaan saat ini, saya dan adik-adik sempat dibuat kalang kabut ketika tiba di Balikpapan tanpa pendamping. Ya, saya akhirnya berusaha memahami jiwa abah memang seperti itu. Tak pernah mau dibatasi oleh kondisi apapun yang dialaminya.