Jumat, 27 Desember 2013

Sang Mama (1)


Selamat Hari Ibu
Selamat menikmati cerpen hari ibu. Semoga menjadi bahan renungan betapa hebatnya sang ibu menjaga keluarga, mengurus dan membesarkan anak-anaknya.
Kenangan Bersama Sang Mama (1)

 “Sudah Kau Pikirkan Nak”

1991 silam di Kota Tarakan, kulihat wajah wanita paro ini begitu kaget ketika kusampaikan keinginan pergi ke Samarinda untuk melanjutkan sekolah SMA ke Samarinda. Wajahnya begitu berkaca-kaca. Terdiam sejenak tanpa suara. “Sudah kau pikirkan nak,” begitu kata sang mama.
Saya kembali menyampaikan kalimat meyakinkan, harus pergi dari kota kelahiran demi sebuah cita-cita, hijrah seperti kala Nabi Muhammad SAW memutuskan keluar dari kota Mekah. Keputusan sulit, jauh dari orangtua. Jauh dari begitu banyak kenangan masa kecil. Kenangan bersama teman sekolah. Kenangan bersama teman kecil. Tapi, saya harus pergi. Akhirnya, Juni 1991, saya benar-benar meninggalkan kota kelahiran.
Yang saya ingat, wajah mama saya benar-benar begitu sedih. Sejak pukul 05.00, saya dengar suara ‘ribut’ di dapur. Saya yakin, mama pasti sedang mempersiapkan sesuatu di dapur. Kebiasaan sejak kecil kami kecil, jam itu menjadi awal mula beraktivitas. Bapak, pasti sudah menuju kamar tempat anak-anaknya tidur, memegang kaki kami, membangunkan untuk salat, mengaji lalu belajar. Hmm hari ini terakhir saya berada di rumah, sepertinya tak ada panggilan itu. Saya bangkit dari tidur segera mengambil air wudhu. Tak ada jadwal mengaji seperti biasa usai salat Subuh.
Usai salat saya, lihat mama, memasak nasi. Inilah aktivitas ‘abadi’ menyiapkan makan enam anak dan sang suami. Duh, betapa nikmatnya hari-hari saya bersama saudara. Makan dalam satu tempat nasi . Menikmati sayur kangkung kesenangan keluarga. Dalam satu minggu, dua atau tiga kali, mama pasti memberi perintah membeli kangkung langsung di kolam. Cukup Rp 100, sudah membawa begitu banyak kangkung. Hari itu pun, kami pasti menikmati sayur kangkung ‘kebanggaan’ yang hingga kini menjadi makanan kesenangan saya, hingga makan malam. Hmmm kangkung yang benar-benar begitu nikmat. Disajikan mama dengan kuah yang banyak di baskom. Apalagi disajikan dengan sambal terasi dan ikan asin.
Hari keberangkatan saya ke Samarinda, mama menyiapkan kerang oseng-oseng untuk bekal berangkat. Begitu banyak nasehat diberikan. “Sekolah yang betul-betul. Jangan macam-macam ya nak”. Itu kalimat yang sering dia ucapkan dalam beberapa hari sebelum berangat. Modal saya berangkat sekolah Rp 50 ribu dalam pecahan 10 ribuan lima. Waktu itu memang tak ada uang Rp 50 ribu dalam satu lembar. Yang saya ingat, mata mama berkaca-kaca kalau di pelabuhan sebelum saya naik ke kapal. Tak banyak kalimat yang dia ucapkan. Tak banyak gerakan tubuh yang dia perlihatkan. Saya pun segera naik ke kapal, tak berani menatap wajahnya. Saya yakin dia pasti sangat sedih.



======
Kenangan saya pun menerawang kala Ramadan. Begitu indah. Saya ingat sekali, sekitar pukul 01.00-an, mama pasti sudah bangun. Menyiapkan makanan untuk sahur. Seorang diri, tanpa bantuan anak-anaknya. Dua anak perempuannya kala itu masih sangat kecil. Empat anak lelakinya, sudah pasti  tak bisa diharapkan. Saya punya kebiasaan kumpul bersama teman-teman, tak jauh dari rumah. Memainkan leduman tepat pukul 01.00, di kala suling Pertamina berbunyi. Teman bermain saya Ilham, Alex, Ismail, serta Rudy.
Biasanya di saat-saat bermain, saya mondar-mandir ke rumah. “Dari mana saja Nak”. Begitu kalimat yang sering mama ucapkan setiap melihat saya. Sudah pasti tangannya disibukkan dengan urusan menyiapkan sayur mentah, bumbu masak untuk persiapan sahur. Tepat pukul 03.30 Wita, saya pasti sudah berada di rumah. Yang saya ingat, di antara jam itu, mama membangunkan anaknya satu per satu. Meminta segera meraup muka, duduk bersama anggota keluarga lainnya.
Seru sekali. Cobek besar berisi sambal siap diludeskan. Ikan goreng senangin, selangat atau kakap menjadi menu wajib. Untuk bapak, hampir pasti ada kakap bumbu kuning. Itu makanan wajib kala bulan Ramadan. Saya biasa makan dengan nasi “menggunung” di piring, ikan dua potong plus sayur. Kami datang dari keluarga sangat bersahaja.
Mama paling bisa menanggulangi ekonomi keluarga, memanfaatkan uang yang minim untuk makan anak-anaknya. Kadang saya tertawa mengingat masa lalu. Bagaimana tidak, dua bungkus mie instan (seharga Rp 150 sebungkus) dicampur kangkung. Kuah yang banyak, terasa nikmat sekali. Sayur daun singkong satu panci kadang juga disajikan untuk anggota keluarga. Kadang, telur dicampur tepung (entah tepung apa). Tapi saya benar-benar merindukan menu telur masak. Terkadang mama menyajikan kerang rebus dalam satu panci besar. 
Pukul 04.30 Wita, bapak sudah meminta saya siap-siap salat subuh ke Masjid Nur Islam, berjarak sekitar 300 meter dari rumah. Mama di mana pada jam itu ke mana.  Hmm!!! Cucian piring segunung sudah menanti. Usai salat subuh, biasanya langsung mencuci piring. Setelah urusan piring, masih ada rendaman pakaian keluarga yang harus diselesaikan. Entahlah kapan mama tidur. Pukul 08.00, pasti sudah pergi ke pasar, persiapan berbuka puasa (dari rumah kami di Markoni, menuju pasar sekitar 300 meter). Pulang dari pasar,  sekitar pukul 09.00. Biasanya kami sudah mendengar lengkingan suaranya. “Bangun. Bangun. Sapu rumah, timba air”. Kalimat itu, benar-benar membekas di telinga saya. Biasanya pula, saya dan adik lelaki tak segera bangun, masih malas-malasan di ranjang. Teriakan ketiga kali atau malah kesekian kali, barulah membangkitkan kami dari tidur.

=======
Jangan membayangkan menu ayam goreng, ayam kare atau gulai jadi makanan wajib keluarga dalam setahun. Rasanya, itu makanan yang setahun dua kali kami nikmati. Yakni ketika Idulfitri dan Iduladha. Lebaran menjadi hari sangat menyenangkan bagi keluarga. Sekaligus sungguh melelahkan untuk mama. Datang dari keluarga besar, sudah pasti rumah diramaikan dengan adik-adik mama. Seminggu menjelang Ramadan berakhir, persiapan pasti sangat padat. Mama pasti sudah balok-balik pasar membeli bumbu makanan, dan bahan membuat kue. Di tengah persiapan itu, biasanya pula, kami satu per satu dibawa membeli pakaian baru. Saya hanya sampai SD kelas VI bersama mama membeli pakaian  baru. Sejak kelas 1 SMP, saya memilih sendiri baju yang akan dibeli.
Kalau sudah begitu, saya hanya tersenyum mengingat kebiasaan mama. Biasanya, kalau malas membawa adik membeli sepatu, tali rafia menjadi alat memastikan kaki adik cocok dengan sepatu dan celana yang akan dibeli. “Is, sana cari tali rafia. Ukur kaki adikmu”. Satu lagi kebiasaan mama yang masih saya pakai hingga sekarang yakni mencocokkan size celana dengan mencocokkan ke leher terlebih dahulu. Kalau di leher pas, dijamin pinggang pun cocok.
Kembali ke menu ayam. Dua ayam petelur, dan dua ayam kampung sudah menjadi pasti disembelih kala Lebaran datang. Hanya dua masakan yakni kare dan gulai ayam. Hmmm, begitu enak sekali. Kaki ayam, pasti menjadi jatah saya setiap pagi menjelang salah Idulfitri. Biasanya pula mama yang membolak-balik isi wajan besarnya mencarikan kaki ayam untuk saya. “Sudah cepat makan sana. Mandi, salat Subuh”. Kalimat yang begitu indah, di tengah tai mata yang masih menempel di mata saya.

========
Masa-masa sulit keluarga kami terjadi di tahun 1980-an. Ayah saya kala itu juga bekerja sebagai kontraktor. Umur saya ketika itu baru 10 tahun. Kami sekeluarga tinggal tak jauh dari Mess AL di Panglima Batur. 

** Saya menyebut rumah gunung, karena memang menuju rumah agak menanjak. Terasa sekali rumah gunung begitu jauh. Atap rumah kami terbuat dari daun rumbia. Lantai rumah dari kayu ulin, begitu sejuk ketika siang hari. Rumah kami dikeliling pohon yang rindang. Tiga pohon mangga berumur belasan tahun. Sangat lebat buahnya ketika musim buah. Kamar utama hanya satu. Biasanya kami tidur di ruang utama sekaligus kamar tamu. Listrik, hmm di tahun 1980-an tak sampai ke rumah. Listrik berbekalkan genset milik tetangga. Saya lupa nama pemilik genset, tapi cucu perempuannya bernama kecil Pur, adalah teman main saya. Bapak Pur bekerja sebagai sopir truk. Sangat ramah sekali pada anak-anak, itu yang saya ingat dari bapak Pur.
Jadwal listrik menyala pukul 18.00 Wita hingga pukul 22.00 Wita. Setelah itu, kami tidur memakai lampu petromak. Pukul 04.00, ketika bahan bakar habis, tetap tidur dalam kondisi gelap-gulita. Siang hari, satu-satunya hiburan adalah radio. Itupun menggunakan baterai. Untuk menghemat, setelah beberapa hari dipakai baterai direbus. Biasanya baterai bisa digunakan lagi untuk sehari atau dua hari.
Tak ada transportasi menuju rumah selain jalan kaki. Jarak ke rumah nenek sekitar 1 kilometer. Menuju jalan besar sejauh 700 meter). Bapak memiliki motor Yamaha L2 Super. Saya ingat sekali, setiap pagi, aktivitas rutin mama adalah jalan kaki ke Pasar Markoni (sekitar satu kilometer). Sore hari, terkadang kami menuju rumah nenek. Tak ada televisi di rumah. Makanya saya sangat senang berada di rumah nenek menikmati televisi hitam-putih. Libur sekolah, menjadi hari wajib saya tidur di rumah nenek).
Satu ketika, bapak sakit hampir dua mingguan. Krisis keuangan melanda keluarga. Untuk makan sangat sulit.
*** Mama adalah anak pegawai Pertamina. Kakek saya tinggal di rumah milik negara yang kala itu sedang jaya. Tapi, mama adalah keluarga besar. Anak perempuan pertama (anak kelima). Punya 16 saudara, sudah jelas tak mungkin minta bantuan orangtua. Saya menjadi salah satu cucu kesayangan nenek. Nenek saya menjadi tempat saya meminta uang setiap hari. Setiap minta tak banyak, Rp 100 nenek pasti diberikan, sehari bisa tiga kali. Entah itu untuk beli kelereng, beli layangan atau gambar in. Saya jarang jajan. Nenek, ikut menjadi tulang punggung keluarga dengan menjual nasi kuning di Pasar Markoni.

Mama kreatif mencari sayuran di sekitar tempat tinggal kami untuk makan tiga anak lelakinya, dan adik perempuan saya yang cantik. Hasnah namanya (meninggal kelas tiga SD, sangat lincah. Saya merindukan dia. Bersama Hasnah (adik ketiga) dan adik (adik kedua), saya biasa keliling sekitar rumah dan tetangga mencari mangga. Kalau sudah mendekati jam saya sekolah, lengkingan suara mama memanggil kami pun terdengar. Begitu mendengar panggilan wajib itu, biasanya bertiga langsung berlarian menuju sumber suara.
Di tengah krisis keuangan, mama mengumpulkan tumpukan koran bekas Mimbar Masyarakat. Saya dan mama pun berangkat ke pasar. Ada Hasnah menyertai. Sepanjang jalan setapak dari rumah gunung menuju Pasar Markoni, saya membawa koran bekas. Tetap riang bermain bersama Hasnah, adik kedua saya. Entah berapa duit dihargai koran-koran bekas itu. Yang pasti, mama bisa membeli mie instan untuk makan keluarga hari itu. Seperti biasa mie disajikan dengan air ‘melimpah’ plus sayur kangkung. Nikmat! nikmati sekali! Bersama ikan asin dan sambal terasi. (bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar