Selamat Hari Ibu
Selamat menikmati cerpen hari ibu. Semoga menjadi bahan
renungan betapa hebatnya sang ibu menjaga keluarga, mengurus dan membesarkan
anak-anaknya.
Kenangan Bersama Sang Mama (1)
“Sudah Kau Pikirkan
Nak”
1991 silam di Kota Tarakan, kulihat wajah wanita paro ini
begitu kaget ketika kusampaikan keinginan pergi ke Samarinda untuk melanjutkan
sekolah SMA ke Samarinda. Wajahnya begitu berkaca-kaca. Terdiam sejenak tanpa
suara. “Sudah kau pikirkan nak,” begitu kata sang mama.
Saya kembali menyampaikan kalimat meyakinkan, harus pergi
dari kota kelahiran demi sebuah cita-cita, hijrah seperti kala Nabi Muhammad
SAW memutuskan keluar dari kota Mekah. Keputusan sulit, jauh dari orangtua.
Jauh dari begitu banyak kenangan masa kecil. Kenangan bersama teman sekolah.
Kenangan bersama teman kecil. Tapi, saya harus pergi. Akhirnya, Juni 1991, saya
benar-benar meninggalkan kota kelahiran.
Yang saya ingat, wajah mama saya benar-benar begitu sedih.
Sejak pukul 05.00, saya dengar suara ‘ribut’ di dapur. Saya yakin, mama pasti
sedang mempersiapkan sesuatu di dapur. Kebiasaan sejak kecil kami kecil, jam
itu menjadi awal mula beraktivitas. Bapak, pasti sudah menuju kamar tempat
anak-anaknya tidur, memegang kaki kami, membangunkan untuk salat, mengaji lalu belajar.
Hmm hari ini terakhir saya berada di rumah, sepertinya tak ada panggilan itu.
Saya bangkit dari tidur segera mengambil air wudhu. Tak ada jadwal mengaji
seperti biasa usai salat Subuh.
Usai salat saya, lihat mama, memasak nasi. Inilah aktivitas
‘abadi’ menyiapkan makan enam anak dan sang suami. Duh, betapa nikmatnya
hari-hari saya bersama saudara. Makan dalam satu tempat nasi . Menikmati sayur
kangkung kesenangan keluarga. Dalam satu minggu, dua atau tiga kali, mama pasti
memberi perintah membeli kangkung langsung di kolam. Cukup Rp 100, sudah
membawa begitu banyak kangkung. Hari itu pun, kami pasti menikmati sayur
kangkung ‘kebanggaan’ yang hingga kini menjadi makanan kesenangan saya, hingga
makan malam. Hmmm kangkung yang benar-benar begitu nikmat. Disajikan mama
dengan kuah yang banyak di baskom. Apalagi disajikan dengan sambal terasi dan
ikan asin.
Hari keberangkatan saya ke Samarinda, mama menyiapkan kerang
oseng-oseng untuk bekal berangkat. Begitu banyak nasehat diberikan. “Sekolah
yang betul-betul. Jangan macam-macam ya nak”. Itu kalimat yang sering dia
ucapkan dalam beberapa hari sebelum berangat. Modal saya berangkat sekolah Rp
50 ribu dalam pecahan 10 ribuan lima. Waktu itu memang tak ada uang Rp 50 ribu
dalam satu lembar. Yang saya ingat, mata mama berkaca-kaca kalau di pelabuhan
sebelum saya naik ke kapal. Tak banyak kalimat yang dia ucapkan. Tak banyak
gerakan tubuh yang dia perlihatkan. Saya pun segera naik ke kapal, tak berani
menatap wajahnya. Saya yakin dia pasti sangat sedih.
======
Kenangan saya pun menerawang kala Ramadan. Begitu indah. Saya
ingat sekali, sekitar pukul 01.00-an, mama pasti sudah bangun. Menyiapkan
makanan untuk sahur. Seorang diri, tanpa bantuan anak-anaknya. Dua anak
perempuannya kala itu masih sangat kecil. Empat anak lelakinya, sudah
pasti tak bisa diharapkan. Saya punya
kebiasaan kumpul bersama teman-teman, tak jauh dari rumah. Memainkan leduman
tepat pukul 01.00, di kala suling Pertamina berbunyi. Teman bermain saya Ilham,
Alex, Ismail, serta Rudy.
Biasanya di saat-saat bermain, saya mondar-mandir ke rumah.
“Dari mana saja Nak”. Begitu kalimat yang sering mama ucapkan setiap melihat
saya. Sudah pasti tangannya disibukkan dengan urusan menyiapkan sayur mentah,
bumbu masak untuk persiapan sahur. Tepat pukul 03.30 Wita, saya pasti sudah
berada di rumah. Yang saya ingat, di antara jam itu, mama membangunkan anaknya
satu per satu. Meminta segera meraup muka, duduk bersama anggota keluarga
lainnya.
Seru sekali. Cobek besar berisi sambal siap diludeskan. Ikan
goreng senangin, selangat atau kakap menjadi menu wajib. Untuk bapak, hampir
pasti ada kakap bumbu kuning. Itu makanan wajib kala bulan Ramadan. Saya biasa
makan dengan nasi “menggunung” di piring, ikan dua potong plus sayur. Kami datang
dari keluarga sangat bersahaja.
Mama paling bisa menanggulangi ekonomi keluarga,
memanfaatkan uang yang minim untuk makan anak-anaknya. Kadang saya tertawa
mengingat masa lalu. Bagaimana tidak, dua bungkus mie instan (seharga Rp 150 sebungkus)
dicampur kangkung. Kuah yang banyak, terasa nikmat sekali. Sayur daun singkong
satu panci kadang juga disajikan untuk anggota keluarga. Kadang, telur dicampur
tepung (entah tepung apa). Tapi saya benar-benar merindukan menu telur masak.
Terkadang mama menyajikan kerang rebus dalam satu panci besar.
Pukul 04.30 Wita, bapak sudah meminta saya siap-siap salat
subuh ke Masjid Nur Islam, berjarak sekitar 300 meter dari rumah. Mama di mana
pada jam itu ke mana. Hmm!!! Cucian
piring segunung sudah menanti. Usai salat subuh, biasanya langsung mencuci
piring. Setelah urusan piring, masih ada rendaman pakaian keluarga yang harus
diselesaikan. Entahlah kapan mama tidur. Pukul 08.00, pasti sudah pergi ke
pasar, persiapan berbuka puasa (dari rumah kami di Markoni, menuju pasar
sekitar 300 meter). Pulang dari pasar,
sekitar pukul 09.00. Biasanya kami sudah mendengar lengkingan suaranya.
“Bangun. Bangun. Sapu rumah, timba air”. Kalimat itu, benar-benar membekas di
telinga saya. Biasanya pula, saya dan adik lelaki tak segera bangun, masih
malas-malasan di ranjang. Teriakan ketiga kali atau malah kesekian kali,
barulah membangkitkan kami dari tidur.
=======
Jangan membayangkan menu ayam goreng, ayam kare atau gulai
jadi makanan wajib keluarga dalam setahun. Rasanya, itu makanan yang setahun
dua kali kami nikmati. Yakni ketika Idulfitri dan Iduladha. Lebaran menjadi
hari sangat menyenangkan bagi keluarga. Sekaligus sungguh melelahkan untuk
mama. Datang dari keluarga besar, sudah pasti rumah diramaikan dengan adik-adik
mama. Seminggu menjelang Ramadan berakhir, persiapan pasti sangat padat. Mama
pasti sudah balok-balik pasar membeli bumbu makanan, dan bahan membuat kue. Di
tengah persiapan itu, biasanya pula, kami satu per satu dibawa membeli pakaian
baru. Saya hanya sampai SD kelas VI bersama mama membeli pakaian baru. Sejak kelas 1 SMP, saya memilih sendiri
baju yang akan dibeli.
Kalau sudah begitu, saya hanya tersenyum mengingat kebiasaan
mama. Biasanya, kalau malas membawa adik membeli sepatu, tali rafia menjadi
alat memastikan kaki adik cocok dengan sepatu dan celana yang akan dibeli. “Is,
sana cari tali rafia. Ukur kaki adikmu”. Satu lagi kebiasaan mama yang masih
saya pakai hingga sekarang yakni mencocokkan size celana dengan mencocokkan ke
leher terlebih dahulu. Kalau di leher pas, dijamin pinggang pun cocok.
Kembali ke menu ayam. Dua ayam petelur, dan dua ayam kampung
sudah menjadi pasti disembelih kala Lebaran datang. Hanya dua masakan yakni
kare dan gulai ayam. Hmmm, begitu enak sekali. Kaki ayam, pasti menjadi jatah
saya setiap pagi menjelang salah Idulfitri. Biasanya pula mama yang
membolak-balik isi wajan besarnya mencarikan kaki ayam untuk saya. “Sudah cepat
makan sana. Mandi, salat Subuh”. Kalimat yang begitu indah, di tengah tai mata
yang masih menempel di mata saya.
========
Masa-masa sulit keluarga kami terjadi di tahun 1980-an. Ayah
saya kala itu juga bekerja sebagai kontraktor. Umur saya ketika itu baru 10
tahun. Kami sekeluarga tinggal tak jauh dari Mess AL di Panglima Batur.
** Saya menyebut rumah gunung, karena memang menuju rumah
agak menanjak. Terasa sekali rumah gunung begitu jauh. Atap rumah kami terbuat
dari daun rumbia. Lantai rumah dari kayu ulin, begitu sejuk ketika siang hari.
Rumah kami dikeliling pohon yang rindang. Tiga pohon mangga berumur belasan
tahun. Sangat lebat buahnya ketika musim buah. Kamar utama hanya satu. Biasanya
kami tidur di ruang utama sekaligus kamar tamu. Listrik, hmm di tahun 1980-an
tak sampai ke rumah. Listrik berbekalkan genset milik tetangga. Saya lupa nama
pemilik genset, tapi cucu perempuannya bernama kecil Pur, adalah teman main
saya. Bapak Pur bekerja sebagai sopir truk. Sangat ramah sekali pada anak-anak,
itu yang saya ingat dari bapak Pur.
Jadwal listrik menyala pukul 18.00 Wita hingga pukul 22.00
Wita. Setelah itu, kami tidur memakai lampu petromak. Pukul 04.00, ketika bahan
bakar habis, tetap tidur dalam kondisi gelap-gulita. Siang hari, satu-satunya
hiburan adalah radio. Itupun menggunakan baterai. Untuk menghemat, setelah
beberapa hari dipakai baterai direbus. Biasanya baterai bisa digunakan lagi
untuk sehari atau dua hari.
Tak ada transportasi menuju rumah selain jalan kaki. Jarak
ke rumah nenek sekitar 1 kilometer. Menuju jalan besar sejauh 700 meter). Bapak
memiliki motor Yamaha L2 Super. Saya ingat sekali, setiap pagi, aktivitas rutin
mama adalah jalan kaki ke Pasar Markoni (sekitar satu kilometer). Sore hari,
terkadang kami menuju rumah nenek. Tak ada televisi di rumah. Makanya saya
sangat senang berada di rumah nenek menikmati televisi hitam-putih. Libur
sekolah, menjadi hari wajib saya tidur di rumah nenek).
Satu ketika, bapak sakit hampir dua mingguan. Krisis
keuangan melanda keluarga. Untuk makan sangat sulit.
*** Mama adalah anak pegawai Pertamina. Kakek saya tinggal
di rumah milik negara yang kala itu sedang jaya. Tapi, mama adalah keluarga
besar. Anak perempuan pertama (anak kelima). Punya 16 saudara, sudah jelas tak
mungkin minta bantuan orangtua. Saya menjadi salah satu cucu kesayangan nenek.
Nenek saya menjadi tempat saya meminta uang setiap hari. Setiap minta tak
banyak, Rp 100 nenek pasti diberikan, sehari bisa tiga kali. Entah itu untuk
beli kelereng, beli layangan atau gambar in. Saya jarang jajan. Nenek, ikut
menjadi tulang punggung keluarga dengan menjual nasi kuning di Pasar Markoni.
Mama kreatif mencari sayuran di sekitar tempat tinggal kami
untuk makan tiga anak lelakinya, dan adik perempuan saya yang cantik. Hasnah
namanya (meninggal kelas tiga SD, sangat lincah. Saya merindukan dia. Bersama
Hasnah (adik ketiga) dan adik (adik kedua), saya biasa keliling sekitar rumah
dan tetangga mencari mangga. Kalau sudah mendekati jam saya sekolah, lengkingan
suara mama memanggil kami pun terdengar. Begitu mendengar panggilan wajib itu,
biasanya bertiga langsung berlarian menuju sumber suara.
Di tengah krisis keuangan, mama mengumpulkan tumpukan koran
bekas Mimbar Masyarakat. Saya dan mama pun berangkat ke pasar. Ada Hasnah
menyertai. Sepanjang jalan setapak dari rumah gunung menuju Pasar Markoni, saya
membawa koran bekas. Tetap riang bermain bersama Hasnah, adik kedua saya. Entah
berapa duit dihargai koran-koran bekas itu. Yang pasti, mama bisa membeli mie
instan untuk makan keluarga hari itu. Seperti biasa mie disajikan dengan air
‘melimpah’ plus sayur kangkung. Nikmat! nikmati sekali! Bersama ikan asin dan
sambal terasi. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar