Jadi juga tulisan ini kenangan bersama mama dan masa
kecil kami. Mohon maaf kalau teman-teman berusaha membaca tulisan jelek ini.
Kenangan Bersama Sang Mama (3)
“Badan Mama Lemas. Kata dokter Penyakit Mama Kambuh”
Tahun 2001, saya pernah mendapat kesempatan tugas kembali ke
Tarakan. Namun perintah pimpinan saya tolak. Saya memang tak ingin kembali ke
Tarakan, membayangkan berada dalam kota kecil kembali pada keluarga besar saya.
Mungkin karena saya sudah terbiasa berada di Samarinda, sehingga seperti sulit
melepaskan diri. Keputusan itu yang kelak benar-benar saya sesalkan beberapa
tahun kemudian. Kenapa? Saya benar-benar seperti menjadi anak tak berbakti pada
orangtua. Mestinya punya kesempatan mengurusi mama lebih banyak. Melepaskan
kerinduan setelah sebelas tahun meninggalkan Tarakan. Memberikan kesempatan
beliau mencurahkan kerinduan pada anak pertamanya.
Saya benar-benar merinding dan meneteskan air mata menuliskan
kalimat ini. Ini benar-benar dosa sangat besar. Saya membuang kesempatan
berbakti pada orangtua. Tapi, waktu tak mungkin diputar lagi. Semua telah
berjalan seiring waktu yang terus bergulir. Allah SWT telah menuliskan cerita
masing-masing. Saya hanya bisa terpekur ketika ingat telah membuat keputusan
salah.
Sekitar Agustus 2000 silam, saya mendapat informasi dari
adik di Tarakan, mama kembali terserang penyakit diabetes. Kali ini bukan
sekadar pusing, lalu badan lemas. Ketika menerima telepon itu, saya benar-benar
terdiam. Saya sudah membayangkan, betapa sulitnya masa-masa yang akan dilalui
mama di masa mendatang. Berita yang benar-benar memukul batin saya. Adik
perempuan saya dengan nada tergopoh-gopoh memberitahu informasi tersebut.
“Kak, penyakit diabetes mama kambuh”. Kalimat itu
disampaikan dengan menangis.
Agak susah saya menjawab telepon dia. Hanya kalimat pendek
yang saya keluarkan, “Iya de. Sekarang mama di mana?” tanyaku.
“Tadi sudah masuk rumah sakit. Kakinya luka, sepertinya
susah sembuh”.
Informasi kaki luka ini, yang di luar perkiraan saya. Semula
saya membayangkan, mungkin masih gejala diabetes. “Iya de. Tolong urus mama
dulu ya. Carikan dokter yang bagus untuk mama. Carikan kamar yang bisa membuat
mama tenang”.
Hanya itu itu sedikit permintaan saya pada adik perempuan
pertama saya, Sahida.
Satu jam kemudian, saya dapat kabar, mama sudah masuk kamar.
Alhamdulillah, bisa segera dapat perawatan. Menurut adik, kondisi tubuh mama
lemas sekali. Ada luka biasa memang karena terkena paku payung, tapi waktu itu
tak menyangka bakal membawa cerita yang lain di kemudian hari. Anggota keluarga
juga tak menyangka, kondisi tubuh yang menurun ternyata karena gejala penyakit
diabetes yang kambuh. Usai masuk kamar, saya menelepon adik meminta bicara
dengan mama.
Akhirnya bisa mendengar suaranya, setelah diliputi
pertanyaan tentang kondisi mama. “Gimana Ma, pusing berat kah kepala”.
Ketika mendengar suaranya, saya benar-benar tak tahu mau
ngomong apa. Basa-basi sudah pasti, memberi semangat belum terpikirkan. Suara
mama di telepon seperti orang mengigau. Suaranya terdengar jauh. Namun
sepertinya ketika mendengar suara saya, dia berusaha memperbaiki nada bicara.
“Badan mama lemas. Kata dokter penyakit mama kambuh”.
Kalimat itu disampaikan dengan nada pelan. Lalu, terdengar lagi suaranya.
“Kamu di mana Is”.
Duh ini kalimat yang benar-benar bikin hati saya sesak. Saya
tak berada di dekatnya, ketika mama dalam kondisi drop. Ini konsekuensi di
perantauan yang jauh dari perhitungan saya.
“Masih di Samarinda Ma’. Nanti ke Tarakan”. Tak terdengar
permintaan, segera pulang menengok dia. Beberapa detik tak terdengar suaranya,
akhirnya saya putuskan hanya mengeluarkan kalimat pamungkas, “Mama istirahat
saja. Tadi adik Ida (panggilan akrab Sahida) sudah carikan obat untuk mama”.
Jawaban mama, “Ya sudah. Kepala mama pusing”. Telepon pun ditutup.
*** Saya sudah membayangkan bakal menemui mama yang jauh
dari kondisi ketika sehat karena luka di kakinya. Sebenarnya sejak 1996 silam,
mama sudah diketahui mengidap penyakit diabetes. Diawali dengan kaki seperti
tak terasa ketika berjalan. Ketika periksa, ternyata kadar gula memang tinggi.
Setelah ketahuan mengidap penyakit gula, hanya lima tahun setelah kematian Mbah
Mami meninggal dunia karena penyakit sama, kami sudah berusaha memberikan
proteksi pada mama untuk tak makan nasi lebih banyak. Itu diet alami yang kami
ketahui. Saya sendiri kala itu tak terlalu berusaha meminta mama diet nasi
lebih ketat.
Meski saya lihat sebenarnya mama tak makan terlalu banyak.
Tapi memang untuk wanita yang terserang diabetes, harus menjauhi nasi. Makan
tak boleh lebih dari 10 gram. Makan tak boleh terlambat karena malah akan
meningkatkan kadar gula dalam tubuh. Ini adalah pengalaman kecil yang saya
lihat dari mama. Masuk rumah sakit pertama itu, benar-benar menjadi awal dari
perjalanan panjang mama menghadapi penyakit diabetes.
Luka di kaki mama terjadi karena terkena paku payung saat
nonton televisi. Entah siapa yang bermain dengan paku payung itu. Mungkin sudah
jalan Allah SWT. Saya sendiri sempat marah pada adik-adik kenapa tak
memperhatikan benda-benda tajam yang ada di rumah. Tapi, ya itu kemarahan
mengalihkan rasa sedih melihat derita mama.
Bagaimana tidak, menginap pertama di rumah sakit berlangsung
1 bulan tiga hari. Kaki sebelah kiri benar-benar parah. Mendapat perawatan
intensif di rumah malah tak memperlihatkan tanda-tanda membaik. Setiap hari
harus ganti perban dua kali. Setiap ganti perban, pasti mengeluarkan bau
menyengat. Diperban saja, bau tak sedap masih kadang tercium. Mama sendiri
sudah tak merasakan apa-apa pada kaki-kaki yang membusuk, selain rasa
nyut-nyut. Tak ada kalimat mengeluh setiap kali suster mengganti perban. Meski
anggota keluarga tahu, penderitaan itu sungguh sangat menyiksa mama. Dia yang
begitu enerjik, harus kehilangan segala-galanya hanya dalam waktu beberapa
hari.
Adik saya Sahida pun bertutur:
Sejak di rawat di rumah sakit, mama tak diperbolehkan makan
nasi terlalu banyak. Kalau makan nasi berbentuk bubur. Itu yang membuat mama
bosan makan. Terkadang mama minta dibelikan rujak cingur. Permintaan dipenuhi
tapi lontong hanya dikasih beberapa potong. Kalau sudah begitu, mama kadang
merajuk tak mau makan. Setelah dibujuk dengan menyebut perkataan dokter tak
boleh makan nasi terlalu banyak, barulah mau makan.
Adik ingat, setiap hari tak pernah lupa menanyakan kapan
kakak datang. Kalau sudah begitu, kadang abah bercanda, “Mama kirim saja ke
Samarinda, biar tak nanya-nanya lagi”. Kalau sudah begitu, mama tersenyum.
Biasanya, kak Wais telepon setiap hari. Bisa juga mama yang minta ditelponkan
anak kesayangannya.
Duh jadi ingat mama. Sebelum sakit, mama sebenarnya rajin
olahraga. Hanya jalan-jalan di sekitar rumah di kawasan Jembatan Buntu, tak
jauh dari Pasar Simpang Tiga. Kalau jalan di pagi hari, biasanya tak
menggunakan sandal. Saya dan Hajar yang paling senang menemani. Kalau pulang
dari jalan-jalan , kadang kami membeli kue untuk sarapan pagi bapak. Setiap
pagi, mama paling senang minum teh manis. Disajikan dalam teko besar untuk kami
yang hendak berangkat sekolah.
Tahun 2000, saat mama sakit, rumah sedang sepi. Dua adik
lelaki saya berada di Samarinda melanjutkan sekolah, lalu bekerja. Praktis
hanya dua adik perempuan berada di rumah. Satu adik lelaki saya sudah menikah,
dan tinggal di rumah mertua. Ada satu saudara sepupu, Endang namanya ikut
tinggal di rumah. Endang ini juga yang ikut membantu kala mama dirawat)
*** Rumah kami tak jauh dari pinggir laut. Saya sangat
senang, ketika air pasang, memenuhi halaman rumah seluas 600 meterpersegi.
Berada di pinggir jalan besar, rumah terbuat dari ulin, ada lima kamar isinya. Menuju
rumah kami ada jembatan sekitar 15 meter, penghubung dari jalan utama ke rumah.
Rumah yang menyenangkan, dibangun pelan-pelan oleh abah selama dua tahun. Tahun
1995-an, rumah kami tempati, meski beberapa bagian ruangan belum selesai.
Meninggalkan rumah masa kecil kami yang hanya berisi dua kamar. Rumah kedua di
Jalan Markoni itu, bagi saya meninggalkan lebih banyak kenangan (kini ditempati
saudara sepupu).
Suasana malam hari di rumah Markoni (sebutan kami
sekeluarga) sangat menyenangkan. Saya paling senang tidur di ranjang besi
(hingga kini masih ada). Kadang tidur di depan televisi. Kalau malam hari, abah
punya kebiasaan nonton acara Dunia Dalam Berita. Jangan pernah berani nonton
film drama ketika abah ada. Kenapa? Usai nonton anak-anaknya pasti disuruh menceritakan
kembali isi film, diminta menyampaikan makna yang bisa dipetik. Makanya, ketika
abah datang saya dengan cepat memejamkan mata. Seakan-akan sudah tidur,
kalau tidak urusan bisa panjang.
Abah sungguh ketat dalam aturan. Jam 10 malam harus sudah berada
di rumah ketika hari libur. Jam pulang maju satu jam ketika pada hari sekolah.
Biasanya, kalau masih ada acara kumpul-kumpul bersama teman, saya tetap pulang
pada jam itu atau sebelum abah pulang. Nah, biasanya kalau sudah pukul 10.30
Wita ketika acara Dunia Dalam Berita selesai, abah langsung masuk kamar tidur.
Kalau sudah begitu, waktunya untuk beraksi. Saya segera keluar rumah melalui
pintu depan. Kalau pintu depan terkunci (kunci entah di mana), saya lewat
jendela.
Pernah satu ketika, mungkin di kelas II SMP, kebiasaan ini
diketahui abah. Entah bagaimana, abah bangun malam. Lalu, mengecek
anak-anaknya. Mendapati anak pertamanya tak ada. Periksa jendela tak agak
terbuka, Akhirnya dikunci kembali. Malam hari sekitar pukul 12.00 Wita saat
pulang, saya mendapat jendela terkunci. Akhirnya dengan terpaksa, saya mengetuk
jendela rumah sebelah kanan, tempat mama saya biasa tidur bersama adik terkecil,
Siti Hajar. Mama pun bangun, alhasil saya pun mendengar sedikit ocehan. Lalu,
seperti biasa mama mengucapkan kalimat pamungkas, “Sudah cepat tidur sana,
nanti abahmu bangun”.
Sekolah termasuk yang sangat ketat diperhatikan abah. Jangan
pernah membolos. Kalau ketahuan ikat pinggang bisa melayang. Kala kelas IV SD,
pulang sekolah dasar, sekitar pukul 14.00 Wita, saya kembali lagi bersekolah di
madrasah ibtidaiyah (MI). Sekolah itu dipimpin Ustaz Dursaid, seorang
perantauan asal Sulawesi Selatan. Dua anak perempuannya adalah teman bermain
saya. Hanya tiga kelas, berisi tiga tenaga pengajar. Pelajaran dasar bahasa
Arab menjadi pelajaran sehari-hari. Termasuk pengenalan huruf dan angka. Saya pernah, dapat pelajaran berharga dari
urusan tak sekolah.
Ketika itu karena keasyikan bermain layang-layang! Sebelum
bermain saya harus menajamkan benang. Bersama tetangga, Yasmin namanya, saya
pun menggelas benang (menggelas bermakna menajamkan benang. Caranya, pecahan
botol ditumbuk halus. Setelah itu dicampur karet, direbus hingga mengeluarkan
buih. Sisa air rebusan itu yang dioleskan ke benang). Soal ramuan membuat
gelasan tadi, Yasmin paling jago (Yasmin tak tamat SD. Namun paling pintar
urusan bermain apapun yang tak memerlukan keterampilan akademik). Sore hari
pukul 18.00 Wita, saya pun pulang rumah. Ketika ditanya abah, tadi sekolah MI atau
tidak, alhamdulillah saya pun menjawab dengan jujur, tak sekolah.
Jawaban ini yang membuat abah marah. Ikat pinggang dibuka,
saya pun dikejar. Karena takut, saya lari tunggang-langgang, berusaha
menyelamatkan diri dengan memanjat pohon mangga. Abah, akhirnya hanya berusaha
meminta saya turun. Dalam tangis, saya hanya bisa memeluk erat pohon mangga. Semakin
abah meminta saya turun, semakin erat pula pohon saya dekap. Di atas pohon,
saya sudah mendapat serangan semut merah (kami menyebut semut angkrang). Harus
bertahan meski badan mulai bentol-bentol. Tak sampai lima menit, akhirnya abah
kembali ke rumah. Mungkin karena tahu saya dapat serangan semut merah.
Situasi aman, saya pun turun dari pohon. Tak lama kemudian,
Paman Umar saya datang (adik sepupu abah). Menyampaikan permintaan mama, segera
pulang. Saya takut, tapi ketika Paman Umar memberitahukan abah sudah jalan,
barulah saya tenang. Malam hari, sepulang abah, saya pun disidang (ini istilah
saya, ketika abah memanggil untuk memberi nasehat). Saya menerima panggilan abah dengan sangat
takut. Pikiran sudah ke mana-mana. Peristiwa tadi sore bakal terjadi, kali ini sepertinya
tak ada kesempatan melarikan diri.
Tapi, terlihat abah melunak. Hanya mengenakan sarung dan
baju kaos putih, tak ada ikat pinggang di tangan (saya menyebut ikat pinggang
dengan pendeng, kala itu). Ancaman pukulan ikat pinggang tak saya terima
lagi semenjak memasuki kelas VI SD.
Mungkin karena saya mulai remaja.
Rumah Markoni tak jauh dari lapangan sepak bola. Ada satu
kebiasaan mama ketika sore hari yakni berteriak memanggil saya untuk segera
pulang karena hari sudah sore. Lengkingan suara mama, menghentikan sejenak
kegiatan saya bermain sepakbola atau layang-layang. Biasanya, saya menoleh
sebentar ke arah panggilan. Lalu, kembali melanjutkan permainan. Barulah pada
teriakan ketiga, saya bergegas kembali ke rumah. Itu karena matahari telah
tenggelam. Tak ada jam tangan. Patokan saya kalau matahari tenggelam, berarti
waktu di antara pukul 18.00 Wita.
Saya tak pernah pulang sebelum azan Magrib berkumandang.
Saya tahu, jadwal malam lumayan padat. Bersama teman segera pergi ke Masjid Nur
Islam, lalu mengaji. Usai mengaji, harus belajar. Tak sampai setengah jam
belajar, menuju masjid untuk salat Isya. Setelah itu, belajar sebentar, barulah
bisa kumpul-kumpul lagi dengan teman. Kebiasaan rutin ini terjadi hingga kelas 1
SMP. Semenjak kelas II SMP, seperti mulai bergeser. Pergi ke masjid hanya untuk
salat magrib saja. Salat isya sudah jarang ke masjid, malah langsung belajar.
Tak jauh dari Rumah Markoni, ada jembatan (terbuat dari
besi, mungkin sudah ada kala zaman Belanda. Anak tangga terbuat dari kayu ulin.
Jarak jembatan tak sampai 15 meter. Jembatan ini melintasi Sungai Pamusan.
Hanya bisa dilalui sepeda motor). Inilah tempat kami duduk, dan berbincang.
Kalau lagi musim hujan, ketika banjir datang, saya pun biasa melompat dari
jembatan itu lalu berenang). Entah apa yang kami bincangkan kala itu. Seingat
saya sangat ribut sekali. Beberapa teman kadang menyebut anak tetangga yang
cantik. Kebiasaan itu mulai muncul sekitar kelas V SD. Primadona kami dua
perempuan sebaya kami, anak pak RT. Tinggal tak jauh dari Masjid Nur Islam.
Tapi, si bapak yang galak. Kalau salat, saat kami ribut, pak RT ini pula yang
segera meminta kami untuk diam. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar