Jumat, 27 Desember 2013

Sang Mama (3)



Jadi juga tulisan ini kenangan bersama mama dan masa kecil kami. Mohon maaf kalau teman-teman berusaha membaca tulisan jelek ini.

Kenangan Bersama Sang Mama (3)
“Badan Mama Lemas. Kata dokter Penyakit Mama Kambuh”

Tahun 2001, saya pernah mendapat kesempatan tugas kembali ke Tarakan. Namun perintah pimpinan saya tolak. Saya memang tak ingin kembali ke Tarakan, membayangkan berada dalam kota kecil kembali pada keluarga besar saya. Mungkin karena saya sudah terbiasa berada di Samarinda, sehingga seperti sulit melepaskan diri. Keputusan itu yang kelak benar-benar saya sesalkan beberapa tahun kemudian. Kenapa? Saya benar-benar seperti menjadi anak tak berbakti pada orangtua. Mestinya punya kesempatan mengurusi mama lebih banyak. Melepaskan kerinduan setelah sebelas tahun meninggalkan Tarakan. Memberikan kesempatan beliau mencurahkan kerinduan pada anak pertamanya.
Saya benar-benar merinding dan meneteskan air mata menuliskan kalimat ini. Ini benar-benar dosa sangat besar. Saya membuang kesempatan berbakti pada orangtua. Tapi, waktu tak mungkin diputar lagi. Semua telah berjalan seiring waktu yang terus bergulir. Allah SWT telah menuliskan cerita masing-masing. Saya hanya bisa terpekur ketika ingat telah membuat keputusan salah.
Sekitar Agustus 2000 silam, saya mendapat informasi dari adik di Tarakan, mama kembali terserang penyakit diabetes. Kali ini bukan sekadar pusing, lalu badan lemas. Ketika menerima telepon itu, saya benar-benar terdiam. Saya sudah membayangkan, betapa sulitnya masa-masa yang akan dilalui mama di masa mendatang. Berita yang benar-benar memukul batin saya. Adik perempuan saya dengan nada tergopoh-gopoh memberitahu informasi tersebut.
“Kak, penyakit diabetes mama kambuh”. Kalimat itu disampaikan dengan menangis.
Agak susah saya menjawab telepon dia. Hanya kalimat pendek yang saya keluarkan, “Iya de. Sekarang mama di mana?” tanyaku.
“Tadi sudah masuk rumah sakit. Kakinya luka, sepertinya susah sembuh”.
Informasi kaki luka ini, yang di luar perkiraan saya. Semula saya membayangkan, mungkin masih gejala diabetes. “Iya de. Tolong urus mama dulu ya. Carikan dokter yang bagus untuk mama. Carikan kamar yang bisa membuat mama tenang”.
Hanya itu itu sedikit permintaan saya pada adik perempuan pertama saya, Sahida.
Satu jam kemudian, saya dapat kabar, mama sudah masuk kamar. Alhamdulillah, bisa segera dapat perawatan. Menurut adik, kondisi tubuh mama lemas sekali. Ada luka biasa memang karena terkena paku payung, tapi waktu itu tak menyangka bakal membawa cerita yang lain di kemudian hari. Anggota keluarga juga tak menyangka, kondisi tubuh yang menurun ternyata karena gejala penyakit diabetes yang kambuh. Usai masuk kamar, saya menelepon adik meminta bicara dengan mama.
Akhirnya bisa mendengar suaranya, setelah diliputi pertanyaan tentang kondisi mama. “Gimana Ma, pusing berat kah kepala”.
Ketika mendengar suaranya, saya benar-benar tak tahu mau ngomong apa. Basa-basi sudah pasti, memberi semangat belum terpikirkan. Suara mama di telepon seperti orang mengigau. Suaranya terdengar jauh. Namun sepertinya ketika mendengar suara saya, dia berusaha memperbaiki nada bicara.
“Badan mama lemas. Kata dokter penyakit mama kambuh”. Kalimat itu disampaikan dengan nada pelan. Lalu, terdengar lagi suaranya.
 “Kamu di mana Is”.
Duh ini kalimat yang benar-benar bikin hati saya sesak. Saya tak berada di dekatnya, ketika mama dalam kondisi drop. Ini konsekuensi di perantauan yang jauh dari perhitungan saya.
“Masih di Samarinda Ma’. Nanti ke Tarakan”. Tak terdengar permintaan, segera pulang menengok dia. Beberapa detik tak terdengar suaranya, akhirnya saya putuskan hanya mengeluarkan kalimat pamungkas, “Mama istirahat saja. Tadi adik Ida (panggilan akrab Sahida) sudah carikan obat untuk mama”.
Jawaban mama, “Ya sudah. Kepala mama pusing”. Telepon pun ditutup.
*** Saya sudah membayangkan bakal menemui mama yang jauh dari kondisi ketika sehat karena luka di kakinya. Sebenarnya sejak 1996 silam, mama sudah diketahui mengidap penyakit diabetes. Diawali dengan kaki seperti tak terasa ketika berjalan. Ketika periksa, ternyata kadar gula memang tinggi. Setelah ketahuan mengidap penyakit gula, hanya lima tahun setelah kematian Mbah Mami meninggal dunia karena penyakit sama, kami sudah berusaha memberikan proteksi pada mama untuk tak makan nasi lebih banyak. Itu diet alami yang kami ketahui. Saya sendiri kala itu tak terlalu berusaha meminta mama diet nasi lebih ketat.
Meski saya lihat sebenarnya mama tak makan terlalu banyak. Tapi memang untuk wanita yang terserang diabetes, harus menjauhi nasi. Makan tak boleh lebih dari 10 gram. Makan tak boleh terlambat karena malah akan meningkatkan kadar gula dalam tubuh. Ini adalah pengalaman kecil yang saya lihat dari mama. Masuk rumah sakit pertama itu, benar-benar menjadi awal dari perjalanan panjang mama menghadapi penyakit diabetes.
Luka di kaki mama terjadi karena terkena paku payung saat nonton televisi. Entah siapa yang bermain dengan paku payung itu. Mungkin sudah jalan Allah SWT. Saya sendiri sempat marah pada adik-adik kenapa tak memperhatikan benda-benda tajam yang ada di rumah. Tapi, ya itu kemarahan mengalihkan rasa sedih melihat derita mama.
Bagaimana tidak, menginap pertama di rumah sakit berlangsung 1 bulan tiga hari. Kaki sebelah kiri benar-benar parah. Mendapat perawatan intensif di rumah malah tak memperlihatkan tanda-tanda membaik. Setiap hari harus ganti perban dua kali. Setiap ganti perban, pasti mengeluarkan bau menyengat. Diperban saja, bau tak sedap masih kadang tercium. Mama sendiri sudah tak merasakan apa-apa pada kaki-kaki yang membusuk, selain rasa nyut-nyut. Tak ada kalimat mengeluh setiap kali suster mengganti perban. Meski anggota keluarga tahu, penderitaan itu sungguh sangat menyiksa mama. Dia yang begitu enerjik, harus kehilangan segala-galanya hanya dalam waktu beberapa hari.
Adik saya Sahida pun bertutur:
Sejak di rawat di rumah sakit, mama tak diperbolehkan makan nasi terlalu banyak. Kalau makan nasi berbentuk bubur. Itu yang membuat mama bosan makan. Terkadang mama minta dibelikan rujak cingur. Permintaan dipenuhi tapi lontong hanya dikasih beberapa potong. Kalau sudah begitu, mama kadang merajuk tak mau makan. Setelah dibujuk dengan menyebut perkataan dokter tak boleh makan nasi terlalu banyak, barulah mau makan.
Adik ingat, setiap hari tak pernah lupa menanyakan kapan kakak datang. Kalau sudah begitu, kadang abah bercanda, “Mama kirim saja ke Samarinda, biar tak nanya-nanya lagi”. Kalau sudah begitu, mama tersenyum. Biasanya, kak Wais telepon setiap hari. Bisa juga mama yang minta ditelponkan anak kesayangannya.
Duh jadi ingat mama. Sebelum sakit, mama sebenarnya rajin olahraga. Hanya jalan-jalan di sekitar rumah di kawasan Jembatan Buntu, tak jauh dari Pasar Simpang Tiga. Kalau jalan di pagi hari, biasanya tak menggunakan sandal. Saya dan Hajar yang paling senang menemani. Kalau pulang dari jalan-jalan , kadang kami membeli kue untuk sarapan pagi bapak. Setiap pagi, mama paling senang minum teh manis. Disajikan dalam teko besar untuk kami yang hendak berangkat sekolah.
Tahun 2000, saat mama sakit, rumah sedang sepi. Dua adik lelaki saya berada di Samarinda melanjutkan sekolah, lalu bekerja. Praktis hanya dua adik perempuan berada di rumah. Satu adik lelaki saya sudah menikah, dan tinggal di rumah mertua. Ada satu saudara sepupu, Endang namanya ikut tinggal di rumah. Endang ini juga yang ikut membantu kala mama dirawat)

*** Rumah kami tak jauh dari pinggir laut. Saya sangat senang, ketika air pasang, memenuhi halaman rumah seluas 600 meterpersegi. Berada di pinggir jalan besar, rumah terbuat dari ulin, ada lima kamar isinya. Menuju rumah kami ada jembatan sekitar 15 meter, penghubung dari jalan utama ke rumah. Rumah yang menyenangkan, dibangun pelan-pelan oleh abah selama dua tahun. Tahun 1995-an, rumah kami tempati, meski beberapa bagian ruangan belum selesai. Meninggalkan rumah masa kecil kami yang hanya berisi dua kamar. Rumah kedua di Jalan Markoni itu, bagi saya meninggalkan lebih banyak kenangan (kini ditempati saudara sepupu).
Suasana malam hari di rumah Markoni (sebutan kami sekeluarga) sangat menyenangkan. Saya paling senang tidur di ranjang besi (hingga kini masih ada). Kadang tidur di depan televisi. Kalau malam hari, abah punya kebiasaan nonton acara Dunia Dalam Berita. Jangan pernah berani nonton film drama ketika abah ada. Kenapa? Usai nonton anak-anaknya pasti disuruh menceritakan kembali isi film, diminta menyampaikan makna yang bisa dipetik. Makanya, ketika abah datang saya dengan cepat memejamkan mata. Seakan-akan sudah tidur, kalau  tidak urusan bisa panjang.
Abah sungguh ketat dalam aturan. Jam 10 malam harus sudah berada di rumah ketika hari libur. Jam pulang maju satu jam ketika pada hari sekolah. Biasanya, kalau masih ada acara kumpul-kumpul bersama teman, saya tetap pulang pada jam itu atau sebelum abah pulang. Nah, biasanya kalau sudah pukul 10.30 Wita ketika acara Dunia Dalam Berita selesai, abah langsung masuk kamar tidur. Kalau sudah begitu, waktunya untuk beraksi. Saya segera keluar rumah melalui pintu depan. Kalau pintu depan terkunci (kunci entah di mana), saya lewat jendela.
Pernah satu ketika, mungkin di kelas II SMP, kebiasaan ini diketahui abah. Entah bagaimana, abah bangun malam. Lalu, mengecek anak-anaknya. Mendapati anak pertamanya tak ada. Periksa jendela tak agak terbuka, Akhirnya dikunci kembali. Malam hari sekitar pukul 12.00 Wita saat pulang, saya mendapat jendela terkunci. Akhirnya dengan terpaksa, saya mengetuk jendela rumah sebelah kanan, tempat mama saya biasa tidur bersama adik terkecil, Siti Hajar. Mama pun bangun, alhasil saya pun mendengar sedikit ocehan. Lalu, seperti biasa mama mengucapkan kalimat pamungkas, “Sudah cepat tidur sana, nanti abahmu bangun”.
Sekolah termasuk yang sangat ketat diperhatikan abah. Jangan pernah membolos. Kalau ketahuan ikat pinggang bisa melayang. Kala kelas IV SD, pulang sekolah dasar, sekitar pukul 14.00 Wita, saya kembali lagi bersekolah di madrasah ibtidaiyah (MI). Sekolah itu dipimpin Ustaz Dursaid, seorang perantauan asal Sulawesi Selatan. Dua anak perempuannya adalah teman bermain saya. Hanya tiga kelas, berisi tiga tenaga pengajar. Pelajaran dasar bahasa Arab menjadi pelajaran sehari-hari. Termasuk pengenalan huruf dan angka.  Saya pernah, dapat pelajaran berharga dari urusan tak sekolah.
Ketika itu karena keasyikan bermain layang-layang! Sebelum bermain saya harus menajamkan benang. Bersama tetangga, Yasmin namanya, saya pun menggelas benang (menggelas bermakna menajamkan benang. Caranya, pecahan botol ditumbuk halus. Setelah itu dicampur karet, direbus hingga mengeluarkan buih. Sisa air rebusan itu yang dioleskan ke benang). Soal ramuan membuat gelasan tadi, Yasmin paling jago (Yasmin tak tamat SD. Namun paling pintar urusan bermain apapun yang tak memerlukan keterampilan akademik). Sore hari pukul 18.00 Wita, saya pun pulang rumah. Ketika ditanya abah, tadi sekolah MI atau tidak, alhamdulillah saya pun menjawab dengan jujur, tak sekolah.
Jawaban ini yang membuat abah marah. Ikat pinggang dibuka, saya pun dikejar. Karena takut, saya lari tunggang-langgang, berusaha menyelamatkan diri dengan memanjat pohon mangga. Abah, akhirnya hanya berusaha meminta saya turun. Dalam tangis, saya hanya bisa memeluk erat pohon mangga. Semakin abah meminta saya turun, semakin erat pula pohon saya dekap. Di atas pohon, saya sudah mendapat serangan semut merah (kami menyebut semut angkrang). Harus bertahan meski badan mulai bentol-bentol. Tak sampai lima menit, akhirnya abah kembali ke rumah. Mungkin karena tahu saya dapat serangan semut merah.
Situasi aman, saya pun turun dari pohon. Tak lama kemudian, Paman Umar saya datang (adik sepupu abah). Menyampaikan permintaan mama, segera pulang. Saya takut, tapi ketika Paman Umar memberitahukan abah sudah jalan, barulah saya tenang. Malam hari, sepulang abah, saya pun disidang (ini istilah saya, ketika abah memanggil untuk memberi nasehat).  Saya menerima panggilan abah dengan sangat takut. Pikiran sudah ke mana-mana. Peristiwa tadi sore bakal terjadi, kali ini sepertinya tak ada kesempatan melarikan diri.
Tapi, terlihat abah melunak. Hanya mengenakan sarung dan baju kaos putih, tak ada ikat pinggang di tangan (saya menyebut ikat pinggang dengan pendeng, kala itu). Ancaman pukulan ikat pinggang tak saya terima lagi  semenjak memasuki kelas VI SD. Mungkin karena saya mulai remaja.
Rumah Markoni tak jauh dari lapangan sepak bola. Ada satu kebiasaan mama ketika sore hari yakni berteriak memanggil saya untuk segera pulang karena hari sudah sore. Lengkingan suara mama, menghentikan sejenak kegiatan saya bermain sepakbola atau layang-layang. Biasanya, saya menoleh sebentar ke arah panggilan. Lalu, kembali melanjutkan permainan. Barulah pada teriakan ketiga, saya bergegas kembali ke rumah. Itu karena matahari telah tenggelam. Tak ada jam tangan. Patokan saya kalau matahari tenggelam, berarti waktu di antara pukul 18.00 Wita.
Saya tak pernah pulang sebelum azan Magrib berkumandang. Saya tahu, jadwal malam lumayan padat. Bersama teman segera pergi ke Masjid Nur Islam, lalu mengaji. Usai mengaji, harus belajar. Tak sampai setengah jam belajar, menuju masjid untuk salat Isya. Setelah itu, belajar sebentar, barulah bisa kumpul-kumpul lagi dengan teman.  Kebiasaan rutin ini terjadi hingga kelas 1 SMP. Semenjak kelas II SMP, seperti mulai bergeser. Pergi ke masjid hanya untuk salat magrib saja. Salat isya sudah jarang ke masjid, malah langsung belajar.  
Tak jauh dari Rumah Markoni, ada jembatan (terbuat dari besi, mungkin sudah ada kala zaman Belanda. Anak tangga terbuat dari kayu ulin. Jarak jembatan tak sampai 15 meter. Jembatan ini melintasi Sungai Pamusan. Hanya bisa dilalui sepeda motor). Inilah tempat kami duduk, dan berbincang. Kalau lagi musim hujan, ketika banjir datang, saya pun biasa melompat dari jembatan itu lalu berenang). Entah apa yang kami bincangkan kala itu. Seingat saya sangat ribut sekali. Beberapa teman kadang menyebut anak tetangga yang cantik. Kebiasaan itu mulai muncul sekitar kelas V SD. Primadona kami dua perempuan sebaya kami, anak pak RT. Tinggal tak jauh dari Masjid Nur Islam. Tapi, si bapak yang galak. Kalau salat, saat kami ribut, pak RT ini pula yang segera meminta kami untuk diam. (bersambung)



Tidak ada komentar:

Posting Komentar