Kenangan Bersama Sang Mama (4)
Pulang ke Rumah Kembali, Mama seperti Hidup Kembali
SELAMA sebulan tiga hari di rumah sakit, malam hari, mama
kadang sulit tidur. Rupanya, terkadang luka itu menimbulkan rasa nyeri.
Terutama pada daging yang masih hidup sel-selnya. Tak mengeluarkan suara
apapun, bibirnya hanya mendesis. Kalau nyeri tak bisa ditahan, kaki kanannya
dihentak-hentakkan ke lantai atau ketika dalam posisi tidur, dihentakkan ke
ujung ranjang (pelan). Ya, rasa nyeri sering kali membangunkan tidur mama di
malam hari.
Biaya pengobatan diabetes lumayan mahal untuk ukuran
keluarga kami. Setiap hari, harus mengeluarkan Rp 400-600 ribuan untuk
pembelian infus, ganti perban, insulin, plester, kasa dll. Belum termasuk sekitar Rp 700 ribuan hingga
Rp 900 ribu per Sabtu untuk obat-obatan. Tapi, urusan uang tak terpikirkan. Saya
tahu, abah pontang-panting mencarikan dana. Saya sendiri berusaha membantu
sebisa mungkin.
Bagi kami, kesehatan mama sangat penting. Uang tak ada
harganya dibandingkan urusan mama yang sedang bertarung dengan nyawa. Satu
ketika, saya benar-benar tak ada uang waktu itu. Adik di Tarakan sudah minta tambahan
dana untuk beli obat. Saya terdiam sejenak, kira-kira bagaimana caranya
mendapatkan uang. Permintaan dana pasti saya iyakan. Entah darimana datangnya,
yang pasti sepertinya ketika itu rezeki yang mengalir lewat saya memang untuk
pengobatan mama. Usai saya iyakan, otak saya berpikir apa kira-kira bisa
mendatangkan duit.
Akhirnya, teringat dengan komputer PC. Saat itu, harga
komputer PC masih mahal. Saya beli seharga Rp 6 juta-an, meski dengan cara
mencicil dari seorang teman yang buka toko komputer. Komputer itu pula yang
saya jual untuk membantu biaya pengobatan mama. Setidaknya, selama beberapa
hari ke depan, saya bisa lebih tenang menghadapi permintaan biaya pengobatan.
Satu yang paling saya takutkan selama sebulan itu, setiap ada permintaan adik
untuk beli obat, yakni kas lagi kosong.
Saya hanya ingin, adik-adik tak memikirkan biaya pengobatan,
di tengah upaya mereka menenangkan hati mama. Jangan sampai mama memikirkan
biaya pengobatan, malah bikin gula darah tak pernah turun. Saya jauh dari
rumah, tak bisa merawat langsung. Tak ada dedikasi yang diharapkan selain ikut
membiayai. Abah, saya tahu (dari cerita adik), telah menjual beberapa aset
tanah untuk membuat mama tetap tersenyum di tengah sakit.
*** Satu yang saya lihat dan kagumi dari mama, wanita yang
telah mengurus enam anaknya, dan menjadi istri setia, yakni tak pernah
sekalipun mengeluh. Bahkan pada masa
sulit-sulit keuangan, dia juga tak pernah menyampaikan keluh kesah. Berapa pun
uang yang diberikan, diolah untuk makan sehari-hari keluarga. Mama yang bahkan
tak pernah bercerita tentang kejelekan abah kepada anak-anaknya. Mama yang juga
tak pernah cerita kejelekan keluarga. Saya tahu persis bagaimana mama bahkan
lebih banyak mengalah kepada abah. Semoga semua itu memberikan kebaikan untuk
mama kelak.
Adik Ida bertutur:
Mama paling pandai membuat kami merasa nyaman di rumah. Kami
tahu terkadang uang tak ada. Tapi, kami bisa makan tiga kali sehari, tepat
waktu jam makan. Pagi hari, kalau tak ada uang untuk membeli kue, mama biasanya
bikin kue lempeng. Kalau tak ada uang untuk beli tepung, nasi uang diolah jadi
nasi goreng.
*** Tahun 1995, mama pernah berkunjung ke Samarinda bersama
adik perempuan saya, Siti Hajar. Karena tak punya duit untuk menginapkan di
hotel, akhirnya mama tinggal di kos saya di Jalan Pramuka, Samarinda. Ini
kunjungan kedua mama. Sebenarnya, mama bisa saja tinggal di rumah saudara
dengan suasana rumah yang jelas jauh lebih baik dari kos-kosan saya. Tapi dia
memilih tinggal bersama saya. Rasanya ketika itu, tak sampai tiga hari berada
di Samarinda. Saya sempat membawa mama jalan keliling Samarinda berbekal motor
Yamaha Alfa II Super.
Saya ingat sejarah motor ini. Kalau tamat SMA, dan harus
bekerja, akhirnya saya menelepon mama minta dibelikan motor. Ini permintaan
pertama saya yang agak besar. Sebelum ini, paling hanya minta dikirimi uang
bulanan. Itupun pada tahun-tahun terakhir, malah jarang minta uang lagi karena
sudah mempunyai penghasilan tetap. Permintaan motor di-sanggupi mama.
“Iya nanti mama rundingkan
Bapak mu. Tapi nanti gunakan untuk kuliah. Mama enggak mau kuliah mu
berantakan. Kamu di Samarinda untuk sekolah bukan bekerja”.
Namanya juga masih muda, saya dengan cepat menyatakan
kesanggupan. Ya, bagi mama, saya memang berada di Samarinda untuk kuliah.
Keesokan harinya, saya kembali menelepon mama.
“Sudah setujukan bapak. Kapan motornya dikirim, Ma”. Kalimat ini dibalas ketawa.
“Sudah setujukan bapak. Kapan motornya dikirim, Ma”. Kalimat ini dibalas ketawa.
“Kau ni (kalimat kau ni, sangat khas Tarakan. Diucapkan
dengan mendayu) baru sehari telepon, bapak belum sempat mengirimkan motor.
Tunggu motor baru bapak mu keluar, baru dikirim”.
Dalam hati bergumam, bakalan lama urusan motor ini. Saya pun
kembali mendesak, berapa lama lagi. “Cepat aja Is. Abahmu sudah mengurus
pembelian motor”. Mama sendiri kadang menyebut bapak, bisa pula abah. Namun
kepada orang-orang, biasa menyebut Abah Is (Is adalah kependekan dari nama
saya) ketika menyebutkan suaminya kepada orang-orang.
Soal penyebutan Abah Is ini kadang membuat adik-adikku
protes bernada canda. “Kenapa sih mama ini pakai Abah Is. Kan ada Hajar atau
Ida”. Biasanya kalau mendengar itu, mama hanya tertawa tak memberikan jawaban
pasti. Hajar sendiri, termasuk anak kesayangan mama dan bapak. Meski kadang
hanya protes berat ketika mama mengoceh tentang saya di depan mereka. Ha ha ha,
yang pasti yang baik-baik saja.
“Bah mama ini, banyaknya anak mama ini yang diceritakan satu
saja”. Saya tahu kalimat ini karena cerita dari adik-adik dan mama.
Sekitar sepuluh hari kemudian, motor Yamaha Alfa II R pun
tiba di Samarinda. Bernopol F di belakangnya, ini adalah motor pertama saya.
Asik! Saya benar-benar kegirangan. Malam hari motor itu saya pandangi.
“Akhirnya punya motor juga”. Siang tadi, saya sudah menghubungi mama
menyampaikan kabar motor yang sudah datang.
“Ma, motor sudah
datang”.
Kalimat ini ini dijawab mama, “Ya. Gunakan motor itu dengan
baik ya. Sekolah yang tinggi. Jangan lupa salat”.
Dua perintah ini ini dia sampaikan. Perintah terakhir,
sering saya dengar dalam perbincangan di telepon. Meski akhirnya, saya sendiri tak pernah tamat
kuliah. Saya hanya sempat kuliah di tiga kampus, berusaha kuliah di tiga
fakultas. Yakni fakultas ekonomi di Universitas Agustus 1945 (sempat mendaftar,
beberapa kali masuk), Fakultas Ekonomi Universitas Widya Gama Mahakam (sempat
semester lima), Fakultas Hukum Universitas Widya Gama Mahakam (sempat ikut
ujian semester pertama). Rata-rata gagal karena urusan pekerjaan. Terkadang
ketika mau semester malah harus berangkat keluar daerah. Nasib saya yang tak
pernah tamat kuliah ini sering jadi bahan canda saya di depan teman-teman, atau
kala memperkenalkan diri dalam satu acara. Tapi, yang pasti mungkin karena
memang saya tak serius menyelesaikan kuliah.
Tak lama setelah menerima motor. Ada surat dari ‘cinta’ bapak
datang. Saya ingat sekali, ditulis dalam secarik kertas, seperti kertas memo.
Tak sampai tujuh baris. Saya lupa detail kalimat tersebut. Tapi kalimat pertama
yang disampaikan yakni!
“Anakku, jangan pernah lupakan salat. Sekolah yang tinggi
dan kerja bagus tak ada artinya kalau kamu tak salah”.
Secarik kertas itu begitu lama berada dalam dompet. Entah ke
mana secarik kertas tersebut. Dulu, ketika membongkar-bongkar isi dompet,
secarik kertas itu sempat saya temukan.
Kembali ke perjalanan mama kedua kali ke Samarinda.
Kesenangan ketika pagi hari adalah makan nasi kuning (awalnya mama tak mau
makan nasi kuning, saat saya sampaikan lauknya ikan gabus atau ikan harwan
kalau di Samarinda. Kalau di Tarakan, ikan gabus biasa terdapat di parit atau
sungai kecil. Tak ada yang dipelihara seperti di Samarinda).
Siang hari mama paling senang menikmati ikan mas atau pepes
patin. Malam hari biasanya menikmati bebek goreng atau nasi goreng. Saya bawa
keliling keluarga. Fisik mama ketika itu benar-benar sehat. Biasanya kalau
habis jalan, tidur-tiduran di kos. Kalau sudah begitu, saya siap-siap saja
mendengarkan ocehan panjang sang mama. Biasanya kalau lagi mengoceh gara-gara
melihat saya terus-menerus merokok, segera saya pijiti kakinya. Pijitan itu
saya maksudnya, ocehan tentang rokok segera berlalu.
Suasana kos-kosan
saya jaga agar terlihat aman sehingga mama tak khawatir melihat anaknya berada
di negeri orang. Saya tinggal di kos yang relatif bebas. Teman-teman kadang
kalau malam hari ada yang menenggak minuman keras jenis vodka, ada pula yang
menggunakan narkoba jenis LL, nipam dan megadon. Ada dua teman akrab saya yang
akrab dengan hal-hal tersebut. Saya sudah wanti-wanti keduanya agar tak mabuk
dan ‘fly’ selama mama saya di di kos-kosan. Meski, sebenarnya dua teman saya
itu selama ini tak pernah secara langsung di depan saya mabuk dan fly, mungkin
karena sungkan.
Meski akrab dengan mereka, saya sendiri sejak dulu tak
pernah sekalipun menenggak minuman keras dan mengobat. Ketika SMA sempat
merasakan dua satu obat nipam karena menghormati teman-teman. Tapi, kala itu
seperti tak merasakan fly sedikitpun. Menghormati tiga teman yang sedang fly,
akhirnya saya berpura-pura merasakan suasana yang sama. Pesta obat terjadi di
rumah seorang teman, setelah kami memutuskan bolos sekolah. Tapi beda sekali
dengan obat-obatan sekarang, obat daftar G tak memberikan efek jangka panjang
untuk psikis, termasuk kergantungan berlebihan. Apalagi sampai merasakan sakaw,
paling-paling hanya keinginan karena merasakan sesuatu yang agak beda. Begitu
yang teman sang pengobat yang saya tanyakan, efek obat daftar G tersebut.
Kedua teman itu adalah teman kecil di Tarakan. Namun yang
cukup membuat saya senang, keduanya jauh dari jejak masa lalu. Seorang teman,
dulu bahkan sempat jadi pengamen untuk membiayai kuliah. Malam hari saya
melihat dia menghitung uang recehan seratus rupiah hasil mengamen. Sedih juga
saya ketika itu melihat semangatnya. Hasil mengamen terkadang dibelikan obat-obatan
terlarang, ini yang membuat saya sangat marah pada satu ketika. Kini, teman
pengamen telah menjadi seorang manajer di salah satu pabrik udang besar di
Tarakan. Satu teman lagi telah menjadi pegawai negeri di Tarakan.
Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan jalan yang baik kepada keduanya.
Dalam satu percakapan dengan teman yang baru setahun menjadi
manajer tersebut, saya sering berseloroh, “Kalau lihat masa lalu mu, saya
benar-benar tak menyangka kau bisa jadi manajer”. Ya, kalau ke Tarakan saya
pasti menyempatkan diri bertemu teman tadi dan lainnya. Biasanya saling olok
terjadi. Tapi, saya tahu persis dia memang punya semangat kerja luar biasa.
Ayah dan ibunya telah tiada ketika usianya masih kecil. Hidup menumpang di
rumah kakak, setiap malam bekerja membantu kakak ipar yang jualan nasi lalap.
Kalau siang hari, sepulang sekolah bekerja menjadi tukang deco mobil. Makanya
di kala SMP, ada gelar tambahan deco di belakang namanya. Semangat kerja itu
yang benar-benar saya ingat.
Alhamdulillah pula, selama mama berada di Samarinda ternyata
teman-teman menjaga kondisi kos-kosan tetap aman. Tak ada suara teriakan di
kala fly atau mabuk. Yang ada di malam hari adalah pesta makan mie instan.
Kebiasaan saya kala malam memang, membelikan mie instan untuk dimakan
ramai-ramai. Bersama teman-teman di kos-kosan saya seperti mendapatkan suasana
berbeda dari kantor. ***
==========
Kembali ke sakit mama. Dalam kondisi bosan di rumah sakit,
mama minta pulang. Abah pun konsultasi dengan dokter. Kalau tak salah,
dokternya bernama Hasbi. Keputusan dokter kala itu, boleh pulang. Secara fisik
memang sehat. Namun, penyembuhan kaki kiri tak memperlihatkan perkembangan
berarti. Kala itu, kami malah khawatir, terlalu lama di rumah sakit, bisa
membuat kadar gula mama kian tak stabil.
Saya menyempatkan diri menjenguk mama di Tarakan, dua minggu
setelah dirawat di RSU Tarakan. Tak sampai tiga hari. Kali ini, saya pun
memilih tak memberitahu mama, saya akan datang ke Tarakan. Sore hari, pesawat
mendarat di Bandara Juwata, Tarakan. Di bandara dijemput adik, langsung menuju
rumah sakit. Saya sudah membayangkan, bakal menemukan tubuh mama kurus. Mata
cekung, dan mama yang ‘hanya’ tergolek di ranjang.
Tak sampai setengah jam, saya sudah sampai di kamar tempat
mama dirawat. Tak lansung masuk. Dari balik pintu, saya intip mama. Saya lihat
sedang bolak-balik di ranjang. Pintu saya buka, begitu melihat saya, terlihat
wajah mama berbinar-binar. Seperti sangat bersemangat sekali. Saya dipeluknya.
Sangat erat sekali, sangat erat. Pipi kanan dan kiri saya dicium. Hampir
setahun saya tak pulang ke Tarakan. Saya sempatkan datang pada Jumat, Sabtu dan
Minggu, baru kali ini di luar urusan kantor.
“Kamu pulang nak. Mana istrimu”.
“Tak ikut ma. Jaga rumah. Nanti rumahnya lari”. Canda saya
kepada mama. Mendengar candaan saya, mama tertawa. “Kamu ini. Ada-ada saja”.
Saya berusaha tak melihat mama seutuhnya. Tak pula berusaha
menanyakan apa yang dia rasakan saat ini. Selain karena saya sudah mengerti,
saya tak ingin mama tenggelam dalam kesedihan setiap saya menanyakan
penyakitnya. Pertanyaan saya pun lebih kepada memuji makanan rumah sakit yang
enak. Kebetulan, ada sisa makanan mama yang saya santap. Rasanya hambar, karena
kurang gula dan garam. Kalimat ini saya sampaikan untuk memberi semangat saja.
Mendengar kalimat ini, mama langsung menjawab. “Bah, mana
ada. Bosan!. Tak bisa makan macam-macam”.
Saya tertawa kecil. “Nanti aja, kalau sehat tinggal pilih
restoran paling enak”. Mama hanya tersenyum mendengar kalimat ini.
Ketika saya harus kembali ke Samarinda, pagi hari, saya
pamitan. Mama sudah bangun sejak pukul 05.00 Wita. Mama tau, hari Senin pagi
ini, harus kehilangan anaknya menuju kota perantauan. Usai memasukkan pakaian
kotor, saya pun pamit. Tak ada kalimat saya sampaikan. Saya ciumi pipi kanan dan
kiri mama. Mama pun membalas dengan mencium pipi kanan, kiri dan kening saya.
Saya pun lalu dipeluknya.
Lalu, ini kalimat yang sangat saya ingat. “Jangan kesehatan
ya nak. Mama tak mau ada apa-apa dengan dengan kamu”.
Tak berlama-lama saya pun langsung meninggalkan rumah
sakit. Entah berapa lama lagi mama akan
dirawat di sana. Satu yang pasti, dokter memang memberikan garansi akan sembuh
100 persen. Bahkan untuk luka di kaki pun dokter tak berani memberikan waktu,
kapan akan sembuh. Kondisi yang mama hadapi, sama persis dengan sebelum kaki
Mbak Mami (ibu dari mama saya) dipotong. Luka tak pernah sembuh, bau tak sedap
yang sama. Ketidakberdayaan, harus berada di ranjang yang sama di rumah sakit,
tak jelas kapan sembuh. Mungkin kondisi itu, kelelahan pikiran dan fisik,
membuat penderita diabetes malah semakin sakit.
Dari adik Ida, saya mendapat cerita. Ketika pulang wajah
mama berbinar-binar lagi. Terlihat lebih sehat dibandingkan ketika dirawat di
rumah sakit. Lengkingan suara mama pun kembali terdengar ketika memanggil
anak-anaknya. Ya, meski telah pulang dari perawatan, mama belum bisa
beraktivitas seperti biasa. Berada di ranjang, setiap pagi dipapah ke kursi
tamu kesayangan mama (kursi panjang, tempat mama biasa tidur-tiduran). Kadang
juga duduk di kursi depan televisi, meski kami tahu mama buka penikmat acara
televisi yang baik. Setahu saya, malah tak ada lagu kesenangan mama. (bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar