Jumat, 27 Desember 2013

Sang Mama (4)



Kenangan Bersama Sang Mama (4)
Pulang ke Rumah Kembali, Mama seperti Hidup Kembali

SELAMA sebulan tiga hari di rumah sakit, malam hari, mama kadang sulit tidur. Rupanya, terkadang luka itu menimbulkan rasa nyeri. Terutama pada daging yang masih hidup sel-selnya. Tak mengeluarkan suara apapun, bibirnya hanya mendesis. Kalau nyeri tak bisa ditahan, kaki kanannya dihentak-hentakkan ke lantai atau ketika dalam posisi tidur, dihentakkan ke ujung ranjang (pelan). Ya, rasa nyeri sering kali membangunkan tidur mama di malam hari.
Biaya pengobatan diabetes lumayan mahal untuk ukuran keluarga kami. Setiap hari, harus mengeluarkan Rp 400-600 ribuan untuk pembelian infus, ganti perban, insulin, plester, kasa dll.  Belum termasuk sekitar Rp 700 ribuan hingga Rp 900 ribu per Sabtu untuk obat-obatan. Tapi, urusan uang tak terpikirkan. Saya tahu, abah pontang-panting mencarikan dana. Saya sendiri berusaha membantu sebisa mungkin.
Bagi kami, kesehatan mama sangat penting. Uang tak ada harganya dibandingkan urusan mama yang sedang bertarung dengan nyawa. Satu ketika, saya benar-benar tak ada uang waktu itu. Adik di Tarakan sudah minta tambahan dana untuk beli obat. Saya terdiam sejenak, kira-kira bagaimana caranya mendapatkan uang. Permintaan dana pasti saya iyakan. Entah darimana datangnya, yang pasti sepertinya ketika itu rezeki yang mengalir lewat saya memang untuk pengobatan mama. Usai saya iyakan, otak saya berpikir apa kira-kira bisa mendatangkan duit.
Akhirnya, teringat dengan komputer PC. Saat itu, harga komputer PC masih mahal. Saya beli seharga Rp 6 juta-an, meski dengan cara mencicil dari seorang teman yang buka toko komputer. Komputer itu pula yang saya jual untuk membantu biaya pengobatan mama. Setidaknya, selama beberapa hari ke depan, saya bisa lebih tenang menghadapi permintaan biaya pengobatan. Satu yang paling saya takutkan selama sebulan itu, setiap ada permintaan adik untuk beli obat, yakni kas lagi kosong.
Saya hanya ingin, adik-adik tak memikirkan biaya pengobatan, di tengah upaya mereka menenangkan hati mama. Jangan sampai mama memikirkan biaya pengobatan, malah bikin gula darah tak pernah turun. Saya jauh dari rumah, tak bisa merawat langsung. Tak ada dedikasi yang diharapkan selain ikut membiayai. Abah, saya tahu (dari cerita adik), telah menjual beberapa aset tanah untuk membuat mama tetap tersenyum di tengah sakit.

*** Satu yang saya lihat dan kagumi dari mama, wanita yang telah mengurus enam anaknya, dan menjadi istri setia, yakni tak pernah sekalipun mengeluh.  Bahkan pada masa sulit-sulit keuangan, dia juga tak pernah menyampaikan keluh kesah. Berapa pun uang yang diberikan, diolah untuk makan sehari-hari keluarga. Mama yang bahkan tak pernah bercerita tentang kejelekan abah kepada anak-anaknya. Mama yang juga tak pernah cerita kejelekan keluarga. Saya tahu persis bagaimana mama bahkan lebih banyak mengalah kepada abah. Semoga semua itu memberikan kebaikan untuk mama kelak.
Adik Ida bertutur:
Mama paling pandai membuat kami merasa nyaman di rumah. Kami tahu terkadang uang tak ada. Tapi, kami bisa makan tiga kali sehari, tepat waktu jam makan. Pagi hari, kalau tak ada uang untuk membeli kue, mama biasanya bikin kue lempeng. Kalau tak ada uang untuk beli tepung, nasi uang diolah jadi nasi goreng.

*** Tahun 1995, mama pernah berkunjung ke Samarinda bersama adik perempuan saya, Siti Hajar. Karena tak punya duit untuk menginapkan di hotel, akhirnya mama tinggal di kos saya di Jalan Pramuka, Samarinda. Ini kunjungan kedua mama. Sebenarnya, mama bisa saja tinggal di rumah saudara dengan suasana rumah yang jelas jauh lebih baik dari kos-kosan saya. Tapi dia memilih tinggal bersama saya. Rasanya ketika itu, tak sampai tiga hari berada di Samarinda. Saya sempat membawa mama jalan keliling Samarinda berbekal motor Yamaha Alfa II Super.
Saya ingat sejarah motor ini. Kalau tamat SMA, dan harus bekerja, akhirnya saya menelepon mama minta dibelikan motor. Ini permintaan pertama saya yang agak besar. Sebelum ini, paling hanya minta dikirimi uang bulanan. Itupun pada tahun-tahun terakhir, malah jarang minta uang lagi karena sudah mempunyai penghasilan tetap. Permintaan motor di-sanggupi mama.
 “Iya nanti mama rundingkan Bapak mu. Tapi nanti gunakan untuk kuliah. Mama enggak mau kuliah mu berantakan. Kamu di Samarinda untuk sekolah bukan bekerja”.
Namanya juga masih muda, saya dengan cepat menyatakan kesanggupan. Ya, bagi mama, saya memang berada di Samarinda untuk kuliah. Keesokan harinya, saya kembali menelepon mama.
“Sudah setujukan bapak. Kapan motornya dikirim, Ma”. Kalimat ini dibalas ketawa.
“Kau ni (kalimat kau ni, sangat khas Tarakan. Diucapkan dengan mendayu) baru sehari telepon, bapak belum sempat mengirimkan motor. Tunggu motor baru bapak mu keluar, baru dikirim”.
Dalam hati bergumam, bakalan lama urusan motor ini. Saya pun kembali mendesak, berapa lama lagi. “Cepat aja Is. Abahmu sudah mengurus pembelian motor”. Mama sendiri kadang menyebut bapak, bisa pula abah. Namun kepada orang-orang, biasa menyebut Abah Is (Is adalah kependekan dari nama saya) ketika menyebutkan suaminya kepada orang-orang.
Soal penyebutan Abah Is ini kadang membuat adik-adikku protes bernada canda. “Kenapa sih mama ini pakai Abah Is. Kan ada Hajar atau Ida”. Biasanya kalau mendengar itu, mama hanya tertawa tak memberikan jawaban pasti. Hajar sendiri, termasuk anak kesayangan mama dan bapak. Meski kadang hanya protes berat ketika mama mengoceh tentang saya di depan mereka. Ha ha ha, yang pasti yang baik-baik saja.
“Bah mama ini, banyaknya anak mama ini yang diceritakan satu saja”. Saya tahu kalimat ini karena cerita dari adik-adik dan mama.
Sekitar sepuluh hari kemudian, motor Yamaha Alfa II R pun tiba di Samarinda. Bernopol F di belakangnya, ini adalah motor pertama saya. Asik! Saya benar-benar kegirangan. Malam hari motor itu saya pandangi. “Akhirnya punya motor juga”. Siang tadi, saya sudah menghubungi mama menyampaikan kabar motor yang sudah datang.
 “Ma, motor sudah datang”.
Kalimat ini ini dijawab mama, “Ya. Gunakan motor itu dengan baik ya. Sekolah yang tinggi. Jangan lupa salat”.
Dua perintah ini ini dia sampaikan. Perintah terakhir, sering saya dengar dalam perbincangan di telepon.  Meski akhirnya, saya sendiri tak pernah tamat kuliah. Saya hanya sempat kuliah di tiga kampus, berusaha kuliah di tiga fakultas. Yakni fakultas ekonomi di Universitas Agustus 1945 (sempat mendaftar, beberapa kali masuk), Fakultas Ekonomi Universitas Widya Gama Mahakam (sempat semester lima), Fakultas Hukum Universitas Widya Gama Mahakam (sempat ikut ujian semester pertama). Rata-rata gagal karena urusan pekerjaan. Terkadang ketika mau semester malah harus berangkat keluar daerah. Nasib saya yang tak pernah tamat kuliah ini sering jadi bahan canda saya di depan teman-teman, atau kala memperkenalkan diri dalam satu acara. Tapi, yang pasti mungkin karena memang saya tak serius menyelesaikan kuliah.
Tak lama setelah menerima motor. Ada surat dari ‘cinta’ bapak datang. Saya ingat sekali, ditulis dalam secarik kertas, seperti kertas memo. Tak sampai tujuh baris. Saya lupa detail kalimat tersebut. Tapi kalimat pertama yang disampaikan yakni!
“Anakku, jangan pernah lupakan salat. Sekolah yang tinggi dan kerja bagus tak ada artinya kalau kamu tak salah”.
Secarik kertas itu begitu lama berada dalam dompet. Entah ke mana secarik kertas tersebut. Dulu, ketika membongkar-bongkar isi dompet, secarik kertas itu sempat saya temukan.
Kembali ke perjalanan mama kedua kali ke Samarinda. Kesenangan ketika pagi hari adalah makan nasi kuning (awalnya mama tak mau makan nasi kuning, saat saya sampaikan lauknya ikan gabus atau ikan harwan kalau di Samarinda. Kalau di Tarakan, ikan gabus biasa terdapat di parit atau sungai kecil. Tak ada yang dipelihara seperti di Samarinda).
Siang hari mama paling senang menikmati ikan mas atau pepes patin. Malam hari biasanya menikmati bebek goreng atau nasi goreng. Saya bawa keliling keluarga. Fisik mama ketika itu benar-benar sehat. Biasanya kalau habis jalan, tidur-tiduran di kos. Kalau sudah begitu, saya siap-siap saja mendengarkan ocehan panjang sang mama. Biasanya kalau lagi mengoceh gara-gara melihat saya terus-menerus merokok, segera saya pijiti kakinya. Pijitan itu saya maksudnya, ocehan tentang rokok segera berlalu.
 Suasana kos-kosan saya jaga agar terlihat aman sehingga mama tak khawatir melihat anaknya berada di negeri orang. Saya tinggal di kos yang relatif bebas. Teman-teman kadang kalau malam hari ada yang menenggak minuman keras jenis vodka, ada pula yang menggunakan narkoba jenis LL, nipam dan megadon. Ada dua teman akrab saya yang akrab dengan hal-hal tersebut. Saya sudah wanti-wanti keduanya agar tak mabuk dan ‘fly’ selama mama saya di di kos-kosan. Meski, sebenarnya dua teman saya itu selama ini tak pernah secara langsung di depan saya mabuk dan fly, mungkin karena sungkan.
Meski akrab dengan mereka, saya sendiri sejak dulu tak pernah sekalipun menenggak minuman keras dan mengobat. Ketika SMA sempat merasakan dua satu obat nipam karena menghormati teman-teman. Tapi, kala itu seperti tak merasakan fly sedikitpun. Menghormati tiga teman yang sedang fly, akhirnya saya berpura-pura merasakan suasana yang sama. Pesta obat terjadi di rumah seorang teman, setelah kami memutuskan bolos sekolah. Tapi beda sekali dengan obat-obatan sekarang, obat daftar G tak memberikan efek jangka panjang untuk psikis, termasuk kergantungan berlebihan. Apalagi sampai merasakan sakaw, paling-paling hanya keinginan karena merasakan sesuatu yang agak beda. Begitu yang teman sang pengobat yang saya tanyakan, efek obat daftar G tersebut. 
Kedua teman itu adalah teman kecil di Tarakan. Namun yang cukup membuat saya senang, keduanya jauh dari jejak masa lalu. Seorang teman, dulu bahkan sempat jadi pengamen untuk membiayai kuliah. Malam hari saya melihat dia menghitung uang recehan seratus rupiah hasil mengamen. Sedih juga saya ketika itu melihat semangatnya. Hasil mengamen terkadang dibelikan obat-obatan terlarang, ini yang membuat saya sangat marah pada satu ketika. Kini, teman pengamen telah menjadi seorang manajer di salah satu pabrik udang besar di Tarakan. Satu teman lagi telah menjadi pegawai negeri di Tarakan. Alhamdulillah, Allah SWT telah memberikan jalan yang baik kepada keduanya.
Dalam satu percakapan dengan teman yang baru setahun menjadi manajer tersebut, saya sering berseloroh, “Kalau lihat masa lalu mu, saya benar-benar tak menyangka kau bisa jadi manajer”. Ya, kalau ke Tarakan saya pasti menyempatkan diri bertemu teman tadi dan lainnya. Biasanya saling olok terjadi. Tapi, saya tahu persis dia memang punya semangat kerja luar biasa. Ayah dan ibunya telah tiada ketika usianya masih kecil. Hidup menumpang di rumah kakak, setiap malam bekerja membantu kakak ipar yang jualan nasi lalap. Kalau siang hari, sepulang sekolah bekerja menjadi tukang deco mobil. Makanya di kala SMP, ada gelar tambahan deco di belakang namanya. Semangat kerja itu yang benar-benar saya ingat.
Alhamdulillah pula, selama mama berada di Samarinda ternyata teman-teman menjaga kondisi kos-kosan tetap aman. Tak ada suara teriakan di kala fly atau mabuk. Yang ada di malam hari adalah pesta makan mie instan. Kebiasaan saya kala malam memang, membelikan mie instan untuk dimakan ramai-ramai. Bersama teman-teman di kos-kosan saya seperti mendapatkan suasana berbeda dari kantor.  ***
==========
Kembali ke sakit mama. Dalam kondisi bosan di rumah sakit, mama minta pulang. Abah pun konsultasi dengan dokter. Kalau tak salah, dokternya bernama Hasbi. Keputusan dokter kala itu, boleh pulang. Secara fisik memang sehat. Namun, penyembuhan kaki kiri tak memperlihatkan perkembangan berarti. Kala itu, kami malah khawatir, terlalu lama di rumah sakit, bisa membuat kadar gula mama kian tak stabil.
Saya menyempatkan diri menjenguk mama di Tarakan, dua minggu setelah dirawat di RSU Tarakan. Tak sampai tiga hari. Kali ini, saya pun memilih tak memberitahu mama, saya akan datang ke Tarakan. Sore hari, pesawat mendarat di Bandara Juwata, Tarakan. Di bandara dijemput adik, langsung menuju rumah sakit. Saya sudah membayangkan, bakal menemukan tubuh mama kurus. Mata cekung, dan mama yang ‘hanya’ tergolek di ranjang.
Tak sampai setengah jam, saya sudah sampai di kamar tempat mama dirawat. Tak lansung masuk. Dari balik pintu, saya intip mama. Saya lihat sedang bolak-balik di ranjang. Pintu saya buka, begitu melihat saya, terlihat wajah mama berbinar-binar. Seperti sangat bersemangat sekali. Saya dipeluknya. Sangat erat sekali, sangat erat. Pipi kanan dan kiri saya dicium. Hampir setahun saya tak pulang ke Tarakan. Saya sempatkan datang pada Jumat, Sabtu dan Minggu, baru kali ini di luar urusan kantor.
“Kamu pulang nak. Mana istrimu”.
“Tak ikut ma. Jaga rumah. Nanti rumahnya lari”. Canda saya kepada mama. Mendengar candaan saya, mama tertawa. “Kamu ini. Ada-ada saja”.
Saya berusaha tak melihat mama seutuhnya. Tak pula berusaha menanyakan apa yang dia rasakan saat ini. Selain karena saya sudah mengerti, saya tak ingin mama tenggelam dalam kesedihan setiap saya menanyakan penyakitnya. Pertanyaan saya pun lebih kepada memuji makanan rumah sakit yang enak. Kebetulan, ada sisa makanan mama yang saya santap. Rasanya hambar, karena kurang gula dan garam. Kalimat ini saya sampaikan untuk memberi semangat saja.
Mendengar kalimat ini, mama langsung menjawab. “Bah, mana ada. Bosan!. Tak bisa makan macam-macam”.
Saya tertawa kecil. “Nanti aja, kalau sehat tinggal pilih restoran paling enak”. Mama hanya tersenyum mendengar kalimat ini.
Ketika saya harus kembali ke Samarinda, pagi hari, saya pamitan. Mama sudah bangun sejak pukul 05.00 Wita. Mama tau, hari Senin pagi ini, harus kehilangan anaknya menuju kota perantauan. Usai memasukkan pakaian kotor, saya pun pamit. Tak ada kalimat saya sampaikan. Saya ciumi pipi kanan dan kiri mama. Mama pun membalas dengan mencium pipi kanan, kiri dan kening saya. Saya pun lalu dipeluknya.
Lalu, ini kalimat yang sangat saya ingat. “Jangan kesehatan ya nak. Mama tak mau ada apa-apa dengan dengan kamu”.
Tak berlama-lama saya pun langsung meninggalkan rumah sakit.  Entah berapa lama lagi mama akan dirawat di sana. Satu yang pasti, dokter memang memberikan garansi akan sembuh 100 persen. Bahkan untuk luka di kaki pun dokter tak berani memberikan waktu, kapan akan sembuh. Kondisi yang mama hadapi, sama persis dengan sebelum kaki Mbak Mami (ibu dari mama saya) dipotong. Luka tak pernah sembuh, bau tak sedap yang sama. Ketidakberdayaan, harus berada di ranjang yang sama di rumah sakit, tak jelas kapan sembuh. Mungkin kondisi itu, kelelahan pikiran dan fisik, membuat penderita diabetes malah semakin sakit.
Dari adik Ida, saya mendapat cerita. Ketika pulang wajah mama berbinar-binar lagi. Terlihat lebih sehat dibandingkan ketika dirawat di rumah sakit. Lengkingan suara mama pun kembali terdengar ketika memanggil anak-anaknya. Ya, meski telah pulang dari perawatan, mama belum bisa beraktivitas seperti biasa. Berada di ranjang, setiap pagi dipapah ke kursi tamu kesayangan mama (kursi panjang, tempat mama biasa tidur-tiduran). Kadang juga duduk di kursi depan televisi, meski kami tahu mama buka penikmat acara televisi yang baik. Setahu saya, malah tak ada lagu kesenangan mama. (bersambung)




Tidak ada komentar:

Posting Komentar