Jumat, 27 Desember 2013

Sang Mama (2)


Selamat Hari Ibu
Alhamdulillah bisa juga menyelesaikan tulisan kedua. Semoga bermanfaat.
Kenangan Bersama Sang Mama (2)
Wanita Perkasa Itu Rontok karena Diabetes

BARU beberapa hari berada di Samarinda, saya mendapat surat dari sang mama. Isinya, seperti biasa berisi motivasi agar sang anak pertamanya belajar sungguh-sungguh. “Kau harus jadi anak yang berbakti pada orangtua. Menjaga adik-adikmu”. Itu pesan yang sungguh membuat saya terdiam sejenak membaca surat pertama. Hanya kalimat itu yang saya sangat ingat detailnya. Kalimat lainnya saya tak ingat lagi. Isi surat tak sampai sepuluh baris. Ditulis dalam kertas buku tulis. Amplop yang sangat lecek ketika sampai ke saya.
Tahun 1991, tak ada telepon genggam. Selama tiga bulan saya tak mendengar suara mama. Baru sekitar September 1991, mama telepon. Suaranya begitu jelas dari Tarakan. “Halo nak, apa kabarmu”. Saya pun menjawab dengan kegirangan, “Baik ma”. Saya tak berani menceritakan, betapa tak enaknya berada di perantauan. Makan tak sebebas di rumah. Mau bebas ya harus punya banyak uang. Harus 800 meter menuju sekolah dari perhentian terakhir sekolah. Belum lagi, kalau kiriman lambat, harus naik taksi hanya satu kali saja, sisanya jalan kaki dulu. Kalau ada uang, baru bisa naik taksi dua kali. Akhirnya, saya pun hanya menceritakan, saya baik-baik saja. Tak kurang satu apapun kecuali seperti biasa, saya minta uang.
“Ya nanti saya kasih tau bapakmu segera kirim uangnya. Tapi ingat jangan dipakai macam-macam uangnya. Jangan dipakai beli merokok”. Ketika menyampaikan kalimat itu, diucapkan dengan suara yang melengking. “Iya mamaku yang cantik”. Biasanya kalau sudah mendengar kalimat itu, mama pun tertawa. “Kamu ini ada-ada saja. Sudah dulu”. Itu kalimat penutup sebelum menutup telepon. Itu kalimat mama yang sungguh menyejukkan. Kiriman ketika itu tak sampai Rp 50 ribu.
Saya lupa bagaimana mama bisa menelepon. Rasanya mama kalau menelepon harus pergi dulu ke wartel atau rumah tetangga. Meski beberapa lama kemudian, rumah kami akhirnya bisa punya telepon.
Ramadan pun tiba. Liburan panjang sekolah menanti. Saya pun siap-siap berangkat ke rumah. Ini kepulangan pertama setelah sekian bulan berada di negeri orang. Meski tau saya akan pulang, namun waktu itu tak ada tanggal kepulangan saya beritahukan. Saya mau kasih kejutan ke mama, pasti dia senang sekali. Begitu otak saya berpikir. Akhirnya, menumpang KM Tidar (saya lupa harga tiket kapal di tahun tersebut. Mungkin tak sampai Rp 50 ribu), saya pulang ke Tarakan.
Pukul 12.00 Wita, puasa ketiga sampai juga saya di Tarakan. Sungguh senang, ini perjalanan pertama kembali ke Tarakan. Rumah saya tepat di pinggir sungai. Saya pun memutar melewati pinggir sungai di dekat lapangan sepakbola Panglima Batur. Dari kejauhan saya lihat mama beraktivitas di samping rumah. Entah apa yang dia lakukan. Saya pun mengendap-endap melewati tanah dekat rumah, berisi tanaman mangga, pohon pinang, dipenuhi tanaman pakis, serta jambu mawar.  
*** Ada kandang kambing dan domba di sana, milik paman Sareh. Dulu, saya senang bermain dengan tiga domba di sana. Saya biasa memanjat mangga di tanah itu kala musim  buah. Buahnya sangat lebat. Bosan makan buah masaknya, saya ambil yangmentah dimakan pakai air panas, lalu dikasih gula. Di samping tanah kebun, ada kolam kangkung berisi ikan gabus. Saya biasa memancing di kolam itu bersama teman-teman. Bosan di kolam itu, memancing ikan di sungai depan rumah.
Kalau tak juga dapat ikan, kami biasanya pergi ke Markoni Dalam. Di sana ada kolam ikan berisi tanaman kangkung jadi sasaran kami. Jarak dari rumah saya sekitar 500 meter. Ada rumah paman saya di sana. Tak jauh dari rumah Pak Nenggolan. Anak pak Nenggolan (Yadi) adalah teman saya bermain, juga teman SMP. Dekat rumah Pak Nenggolan, ada rumah sahabat SMP saya, Mardiyah.
Saya ingat, di situ juga ada rumah Pak Hamzah. Dia guru mengaji kami ketika SD. Biasanya sehabis Magrib saya dan teman-teman mengaji di sana. Rumah Pak Hamzah berada di bangsalan Pertamina. Jumlah muridnya setiap mengaji mencapai 20-an orang. Murid yang pintar di ruangan dalam, murid baru belajar di teras rumah. Kalau mengajar ngaji, ada mistar di tangan kanannya. Mistar itu digunakan untuk memukul tangan murid yang bikin marah Pak Hamzah karena bacaan atau memukulkan ke dinding ketika kami malah asik ngobrol. Guru Hamzah sangat hafal murid-muridnya .
Masa itu, tak ada yang melapor ke orangtua karena mendapat pukulan mistar. Melapor ke orangtua pun malah kami yang dimarahi. Orangtua sangat memasrahkan sang anak pada guru. Seingat saya, Guru Hamzah mengajar dengan pengabdian tinggi tanpa imbalan. Kalau pulang, biasanya hanya tertawa menceritakan pukulan mistar Guru Hamzah. Tak ada yang marah atau nangis. Padahal ketika mulai mengaji, kami takut setengah mati mendapatkan pukul mistar itu. Setelah mendapat pukulan, kami meringis, tak menangis. Lalu, kembali mengaji seperti biasa seperti tak ada peristiwa apapun.
Suasana menjelang Isya itu sangat riuh sekali. Saya sendiri kalau datang selalu bersama Ilham. Seperti mendengarkan suara bersahut-sahutan. Semua murid tenggelam dalam bacaan masing-masing. Entah karena takut dengan Guru Hamzah atau benar-benar konsentrasi belajar mengaji. Saya sendiri setelah mulai belajar Alquran, akhirnya kembali belajar di rumah bersama bapak. Satu lagi guru mengaji, adalah di rumah Kai Bren (entah nama sebenarnya siapa). Anak Kai Bren teman saya SMP, Yudi. Rumah Kai Bren, hanya beberapa meter dari  rumah Mbah saya (Ramisa namanya, orang kampung biasa menyebut Mbah Mami. Entah kenapa disebut Mbah Mami). ***

Kembali ke perjalanan pulang saya dari Samarinda. Sekitar 30 meter dari sang mama, saya pun berteriak “Assalamualaikum. Assalamualaikum”. Mendengar suara saya, mama terkejut, lalu tertawa. Wajahnya berubah (Duh saya merindukan wajah yang tak pernah saya lihat lagi). “Kamu ini kagetkan mama aja. Lho kapan datangnya kok gak kasih kabar”.  Seraya menghampiriku, menciumku. Meski sudah besar, saya masih senang mencium kedua pipinya. Senang menggoda mama untuk bikin dia ‘marah’.
Benar-benar wajah kegirangan bertemu anaknya. Saya juga senang bakal bisa makan lebih banyak. Bisa merasakan masakan mama lagi. Selama dalam perjalanan di kapal, saya sudah membayangkan bakal menyantap sambal terasi plus ikan asin kakap bersama lima adikku. Pasti sangat nikmat bisa berada di rumah dalam kebersamaan. Makan di atas cobe yang sama. Kebersamaan yang kini hilang dan pasti tak kembali lagi.
Buka puasa Ramadan keempat, saya menikmati kolak pisang. Menu kolak pisang plus kacang ijo jadi makanan wajib kala puasa. Biasanya, mama memasak dalam panci sedang. Setiap hari pasti ada, dijamin pasti ludes diserbu anggota keluarga. Saya lupa kue yang lain. Tapi ada satu kue yang sangat membekas dalam ingatan satu, yakni kue lempeng. Entah nama lain kue ini. Tapi it sebutan saya dan keluarga. Terbuat dari tepung dicampur air. Seperti martabak, hanya saja tanpa telur. Setelah digoreng, disajikan dengan ditaburi gula pasir. Hmmm, enak! Kue lempeng ini pula yang jadi sarapan anggota keluarga ketika hendak sekolah. Terkadang kue lempeng itu dikasih potongan buah pisang.
Sudah berbulan-bulan saya tak menikmati kue lempeng itu. Bahkan hingga umur saya menginjak 38 tahun, tak pernah saya rasakan lagi. Terakhir, kue lempeng itu saya makan sebelum berangkat merantau. Selama Ramadan kedatangan pertama di Samarinda, saya pun tak menikmati kue itu. Hanya kue tepung bercampur pisang yang sering saya nikmati selama Ramadan. Saya lihat, mama membeli punya cetakan kue itu. Ini menu baru, karena selama SD hingga SMP saya tak pernah mendapati.
Selama sebulan pula, saya habiskan waktu bersama-sama teman-teman masa kecil dan SMP. Saya sempatkan mengunjungi makam Mbah saya yang meninggal hanya tiga bulan setelah saya meninggalkan Tarakan. Saya ingat sekali pesannya ketika saya pamit berangkat. “Is, kamu sekolah yang baik. Sekolah yang tinggi. Mungkin nanti kamu tak ketemu Mbah lagi”. Kalimat itu diucapkan dengan lemah sekali. Mbah pun lalu mencium pipi kanan dan kiri saya, lalu kening.  Ternyata kalimat itu benar-benar pesan terakhirnya kepada saya. Kalimat yang bikin air mata saya menetes ketika teringat. Makanya ketika mama menelepon mengabari, Mbah sudah meninggal, saya benar-benar sedih. Malam itu juga saya salat gaib, kirimkan surah Yasin untuk Mbah yang telah ikut membesarkan saya.
Ada banyak kenangan bersama Mbah. Bahkan, oleh mama saya disebut anak Mbah. Kenapa? Semua permintaan saya kepada orangtua yang tak dipenuhi, pasti saya sampaikan lagi kepada Mbah. Sudah pasti permintaan itu dipenuhi. Saya pernah menangis, melihat teman-teman naik sepeda mini dan BMX, sementara saya tak punya. Saya pun mengadu pada Mbah minta dibelikan sepeda. Ternyata tak berapa lama, saya memiliki sepeda BMX hitam. Meski tak punya sepeda, saya sudah bisa naik sepeda sejak SD kelas I. Modal belajar saya adalah sepeda ontel milik kakek saya. Itu sepeda yang biasa digunakan ketika pergi kerja. Poniman itu nama kakek saya.
Mbah Mami adalah wanita perkasa. Umur menjelang 65 tahun, tetap semangat memberikan nasehat pada anak dan cucunya, tak mau diam di rumah (berusaha bekerja membersihkan rumah dalam keterbatasan fisik). Sakit diabes membuat Mbah Mami berhenti jualan nasi. Anak-anaknya yang mapan (kebanyakan bekerja di Pertamina, dan kontraktor Pertamina), sejak dulu meminta agar berhenti jualan nasi kuning. Namun, Mbah tak pernah menggubris. Barulah ketika sakit diabetes, akhir aktivitas jualan mulai terhenti. Saya sendiri merasa sangat berdosa kepada sang Mbah. Kenapa? Sakit diabetesnya kambuh usai kerja keras menyiapkan acara sunatan saya dan adik lelaki pertama saya, Iksan, ketika kelas V SD. Bersama para bibi, ketika itu saya ingat sekali dia menyiapkan acara selamatan.
Acara sunatan kami digelar di dua tempat. Saya disunat di rumah Mbah, sedangkan adik di rumah (hanya berjarak 150 meter dari rumah Mbah Mami). Entah kenapa bisa dibikin di dua tempat. Mungkin karena saya termasuk cucu kesayangan, makanya acara sunatan dibikin di rumah Mbah Mami. Ya, beberapa setelah acara itu, Mbah Mami jatuh sakit. Peristiwa itu membuat saya sempat terpukul. Sebulan-an saya ikut menjaga Mbah Mami di RSUD Tarakan. Jadwal jaga saya biasanya sepulang sekolah, bersama Bibi Siti. Dia anak Mbah Mami terakhir atau ke-20. Usianya hanya terpaut dua tahun dari saya. Jarak dari rumah rumah ke rumah sakit, hampir 1,5 kilometer. Kalau ke sana ya harus jalan kaki. Biasanya saya bersama Bibi Siti ke rumah sakit, rute perjalanan rutin, berusaha melewati jalan pintas. Melintasi Mess PU menuju SD 003 Pamusian (tempat sekolah saya), melewati kawasan Ladang (perumahan Pertamina untuk golongan pegawai menengah ke atas), lalu naik gunung Ladang, dari sana sekitar 200 meter lagi sampai. Begitu setiap hari selama sebulan.
Mbah Mami, termasuk sukses membesarkan anak-anaknya. Kakek meninggal ketika sebagian besar dari 16 anak-anaknya belum mapan. Setelah meninggal, berbekal uang pensiun Pertamina, Mbah Mami membesarkan anak-anaknya dengan jualan nasi kuning. Pertamina membiayai sekolah bibi dan paman saya hingga tamat SMA. Seluruh paman dan bibi saya menikmati bangku sekolah kecuali mama dan Bibi Jati, tak tamat SD. Sebagai anak perempuan tertua, bersama Bibi Jati kala itu dapat tugas menjaga adik-adik.
Saya masih menikmati makan bersama para bibi dan paman di rumah dinas Pertamina, di Markoni. Suasana yang lebih ramai dari rumah saya. Mbah Mami sangat tegas pada anak-anaknya. Tak membolehkan ada makanan tersisa di piring, bahkan satu butir pun tak boleh jatuh ke lantai. Ajaran Mbah Mami yang tak membolehkan makanan tersisa, sepertinya saya ikuti sampai sekarang. Kalau makan, tak ada butiran nasi tersisa kecuali tulang ikan.
Penyakit Mbah Mami, pula yang kelak menggerogoti mama. Menimpa pula adik mama, Bibi Tama. Kakak mama, Pakde Senang (nama panggilan, aslinya Ramidi) yang anggota TNI-AD berpangkat kapten (bertugas di Balikpapan). Dua nama terakhir ini akhirnya meninggal dunia. Nasib Pakde Senang juga sama dengan Mbah Mami, satu kaki harus dipotong. Sehari sebelum Pakde Senang meninggal saya sempat berkunjung. Kondisinya sudah payah. Dalam hati ketika itu, sepertinya dalam beberapa hari lagi Allah akan memanggil. Ternyata, keesokan harinya, saya mendapat kabar Pakde Senang meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilahi rojiun (semoga Allah memberi tempat yang layak). Ya, penyakit diabetes telah merengut nyawa Pakde Senang. Sejak sakit, wajahnya yang gagah sudah tak terlihat lagi. Dari Bude, saya sempat mendapat cerita semangatnya masih ada meski sakit. Bermodal kaki palsu, sempat berusaha kerja seperti biasa. Namun penyakit diabtes benar-benar tak bisa disembuhkan. Akhirnya, harus berbulan-bulan tergolek lemah, hingga akhirnya meninggal dunia.
Bibi Tama, meninggal setahun lalu. Tak terdeteksi berpenyakit diabetes. Ketika jatuh sakit, diketahui mempunyai penyakit diabetes. Sempat dirawat di rumah sakit, akhirnya tak sampai sebulan meninggal dunia. Ketika meninggal dunia, Bibi Tama tak mempunyai keturunan. Bibi Tama menikah terlambat, di umur 35-an tahun. Dulu, saya sering diajak ke rumah orang pintar, minta bantuan cari jodoh. Satu orang pintar yang saya ingat, tinggal di sekitar Kampung IV, dekat pompa minyak Pertamina. Usai pulang, ketika itu, Bibi Tama menyebut, jodoh akan menghampiri dari pacar lamanya. Yang pasti, ketika saya tamat SMA,  Bibi Tama memang menikah dengan teman SMA. Paman Burhan namanya, pria pendiam yang rajin membantu keluarga, saya tak tahu apakah dia pernah menjadi pacar Bibi Tama.
Satu lagi bibi saya ---dari sekian banyak --- Bibi Jati kini juga harus berjuang melawat penyakit diabetes. Satu kaki sudah terluka, sempat busuk. Kini, alhamdulillah sudah kering, tak berbau lagi. Bibi Jati, sama dengan Mbah Mami dan mama, sehari-hari hidup dalam upaya membesarkan anak-anaknya. Bibi Jati, anak Mbah Mami yang beranak paling banyak, punya 10 anak. Kedua terbanyak adalah mama saya. Kami sebenarnya delapan bersaudara (dua adik perempuan saya meninggal dunia). Anak-anak Mbah Mami yang lain, paling banyak punya 5 anak. Paling sedikit empat anak. Jumlah cucunya, hmmm ketika menghitung 20 tahun silam mencapai 50 orang. Kini saya tak tahu  lagi jumlahnya, mungkin sudah menembus 70 orang atau lebih. Cicitnya malah sudah banyak yang menikah, dan memberikan anak. Saya malah tak mengenal lagi belasan anak dari keponakan, mungkin saking banyaknya dan saya jarang berada di Tarakan.
*** Cucu dan cicit Mbah Mami kini telah menyebar. Ada satu pakde saya tinggal di Malang (setelah memilih pensiun dini dari Pertamina), punya lima anak. Anak perempuan tertuanya hidup di Surabaya. Anak perempuan keduanya, malah tinggal di Pontianak, setelah menikah. Anak pertamanya tinggal di Tarakan, meninggal dunia karena tenggelam. Satu pakde lagi sempat merantau ke Palembang. Meninggalkan anak dan cucu di sana, sebelum akhirnya kembali lagi ke Tarakan di usia tuanya.
Satu lagi adik mama, Paman Kasan, bermukim di Nganjuk. Bekerja sebagai pegawai Badan Pertanahan Nasional (BPN). Istrinya guru agama. Dulu, paman Kasan bertugas di Tarakan, entah bagaimana 15 tahun silam mutasi ke Madura. Lalu, kini malah bermukim di Nganjuk. Setahu saya dia punya tiga anak, sehari-hari juga berbisnis beras. Beberapa bulan lalu, Paman Kasan berkunjung ke Samarinda, ini kejutan untuk saya. Hampir 18 tahun saya tak pernah bertemu. Ternyata dia datang khusus mengunjungi saya dan adik-adik. Senang sekali dikunjungi paman yang kukenal sangat baik pada keluarga, meski hanya sehari.  ***

Kembali ke Bibi Jati! Kalau ke rumah Bibi Jati yang saya perhatikan adalah rendaman pakaian di belakang rumah, pasti dua ember besar. Saking senang mencuci, Bibi Jati terserang varises sangat parah. Wajah Bibi Jati sangat mirip mama. Makanya, kini kalau pulang ke Tarakan, pasti singgah ke rumahnya (rumah Mbah Mami dahulu). Saya seperti menemui mama ketika bertemu Bibi Jati. (bersambung)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar